"Indonesia tidak lagi di tangan Jokowi. Nasib Indonesia ada di panggung Prabowo Subianto," kata Tony.
Menurut Tony, saat itulah pertarungan gagasan, pertukaran ide, bahkan kritik dan konflik politik akan segera hadir.
"Panggung Prabowo akan ramai dan panggung Jokowi berangsur sepi. Ini hukum sejarah dan sesuatu yang normal dalam konstalasi politik," kata Tony.
Pada akhirnya rakyat akan mencium apakah panggung Prabowo akan tetap harum di tahun-tahun berikutnya, atau sebaliknya seiring dengan kritik publik ketika direspons secara kontra-produktif.
"Apakah Prabowo tampil seperti SBY yang dirindukan rakyat jelang pemilihan untuk periode keduanya? Atau seperti Megawati yang tak terpilih, atau Jokowi yang harus berdarah-darah ketika menghadapi pemilu untuk periode keduanya?" pungkas Tony.
Sumber: RMOL
Artikel Terkait
IPW Kritik Keras Febrie Belum Ditahan, Desak Prabowo Copot Jaksa Agung ST Burhanuddin
Perubahan Posisi Duduk Gibran di Sidang Kabinet: Ini Penjelasan Mensesneg
Prabowo Syok Temukan Kerusakan Indonesia Stadium Akibat Salah Urus, Dana Rp Ribuan Triliun Raib
Sidang Etik 6 Pimpinan KPU RI: Pelanggaran Administrasi Dokumen Pencalonan Jokowi di Pilpres 2014 dan 2019