"Indonesia tidak lagi di tangan Jokowi. Nasib Indonesia ada di panggung Prabowo Subianto," kata Tony.
Menurut Tony, saat itulah pertarungan gagasan, pertukaran ide, bahkan kritik dan konflik politik akan segera hadir.
"Panggung Prabowo akan ramai dan panggung Jokowi berangsur sepi. Ini hukum sejarah dan sesuatu yang normal dalam konstalasi politik," kata Tony.
Pada akhirnya rakyat akan mencium apakah panggung Prabowo akan tetap harum di tahun-tahun berikutnya, atau sebaliknya seiring dengan kritik publik ketika direspons secara kontra-produktif.
"Apakah Prabowo tampil seperti SBY yang dirindukan rakyat jelang pemilihan untuk periode keduanya? Atau seperti Megawati yang tak terpilih, atau Jokowi yang harus berdarah-darah ketika menghadapi pemilu untuk periode keduanya?" pungkas Tony.
Sumber: RMOL
Artikel Terkait
PKS Tolak Kenaikan Harga BBM Subsidi 2026: Solusi Alternatif & Dampak ke APBN
Syahganda Nainggolan Sebut Hanya Soekarno dan Prabowo Presiden Ideologis, Ini Alasannya
Buni Yani Kritik KPK: Fokus ke Kasus Fadia Arafiq, Abaikan Dugaan ke Keluarga Jokowi?
Jokowi dan Langkah Politik Menuju 2029: Analisis Pakar Soal Pengaruh dan Dukungan ke PSI