"Indonesia tidak lagi di tangan Jokowi. Nasib Indonesia ada di panggung Prabowo Subianto," kata Tony.
Menurut Tony, saat itulah pertarungan gagasan, pertukaran ide, bahkan kritik dan konflik politik akan segera hadir.
"Panggung Prabowo akan ramai dan panggung Jokowi berangsur sepi. Ini hukum sejarah dan sesuatu yang normal dalam konstalasi politik," kata Tony.
Pada akhirnya rakyat akan mencium apakah panggung Prabowo akan tetap harum di tahun-tahun berikutnya, atau sebaliknya seiring dengan kritik publik ketika direspons secara kontra-produktif.
"Apakah Prabowo tampil seperti SBY yang dirindukan rakyat jelang pemilihan untuk periode keduanya? Atau seperti Megawati yang tak terpilih, atau Jokowi yang harus berdarah-darah ketika menghadapi pemilu untuk periode keduanya?" pungkas Tony.
Sumber: RMOL
Artikel Terkait
Pertemuan Eggi Sudjana dan Damai Lubis dengan Jokowi: Diplomasi Tingkat Tinggi atau Rekonsiliasi Politik?
Blunder Restorative Justice Eggi-Damai: dr Tifa Sebut Langkah Itu Melemahkan Jokowi
Thomas Djiwandono Mundur dari Gerindra, Syarat Jadi Deputi Gubernur BI Terpenuhi
Partai Gerakan Rakyat Usung Anies Baswedan Capres 2029, Demokrat Soroti Verifikasi KPU