Analisis lebih lanjut mengungkap, jika Jokowi memilih untuk tidak mengambil langkah tegas dan membiarkan polemik berlanjut, situasi ini justru berpotensi menguntungkan secara politik. Salah satu keuntungan yang mungkin muncul adalah terpeliharanya polarisasi di tengah masyarakat.
Polarisasi ini, menurut Fatta, dapat mengikat kelompok pendukung fanatik secara emosional. Dalam konteks publik Indonesia yang dinilai mudah tersentuh secara emosional, isu seperti ijazah dapat bertahan lama di ruang publik dan memicu pembelaan kuat dari pendukung.
Kaitan dengan Masa Depan Politik Elektoral
Fenomena ini tidak berhenti pada polarisasi semata. Nurul Fatta mengaitkannya dengan dampak jangka panjang pada politik elektoral. Loyalitas dan ingatan emosional yang terbangun melalui isu yang berlarut-larut dapat menjadi aset politik.
Kelompok masyarakat yang terus membela figur tersebut berpotensi menjadi ceruk suara yang solid dalam kontestasi elektoral di masa mendatang. Dengan kata lain, dinamika di sekitar isu ijazah bisa saja membentuk dan mengonsolidasikan basis dukungan untuk kepentingan politik elektoral tertentu.
Artikel Terkait
Ijazah Jokowi Pakai Materai Rp100, Sah atau Tidak? Jubir PSI Beri Penjelasan Hukum
Kunjungan Rahasia Eggi Sudjana & Damai Hari Lubis ke Jokowi di Solo Disebut Aib
Kontroversi Mens Rea Pandji Pragiwaksono: Analisis Lengkap Tudingan Antek Asing hingga Kekesalan pada Gibran
Strategi PDIP 2029: Analisis Posisi Penyeimbang & Peluang Koalisi dengan Prabowo