Amir menduga kapal tanker Iran berukuran sangat besar (VLCC) memasuki wilayah perairan Indonesia dengan pola pelayaran yang tidak lazim. Kapal-kapal tersebut diduga mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS), sebuah metode yang sering dikaitkan dengan operasi berisiko tinggi dalam intelijen maritim.
Menurut Amir, pola ini menjadi indikator awal bahwa pergerakan tersebut bukan aktivitas komersial biasa. "Dalam praktik intelijen, setiap upaya menghindari pelacakan biasanya berkaitan dengan sensitivitas politik atau ekonomi tingkat tinggi," jelasnya.
Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan industri dan konsumsi domestik. Dalam konteks ini, Iran menjadi alternatif yang menarik secara ekonomi dan politik. Sebagai negara yang berada di bawah tekanan sanksi Barat, Iran cenderung menawarkan harga lebih kompetitif serta skema perdagangan yang fleksibel.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Buka Suara: Tak Menyesal Bantu Jokowi, Tegaskan Keputusan Masa Lalu Sesuai Konteks
Larangan Demo di Bundaran HI Menuai Kritik Tajam: LBH Jakarta Tegaskan Polisi Jangan Ngarang Soal Objek Vital Nasional
Peta Kekuatan Pilpres 2029: Siapa King Maker di Balik Layar Perebutan Kursi Presiden?
Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp2 Miliar, Pakar Hukum dan Ade Armando Buka Fakta Riwayat Pendidikan di Singapura-Australia