Lebih lanjut, ia menyoroti sistem hukum yang dinilai telah kehilangan watak keadilannya. Menurut Hasto, sistem hukum yang seharusnya menjunjung tinggi keadilan, kini justru tunduk pada kekuasaan. Ia menambahkan bahwa aparat penegak hukum dan seluruh aparatur negara telah diturunkan derajatnya menjadi alat mobilisasi elektoral dan pelindung elite kekuasaan.
"Ini yang terjadi pada Pemilu 2024 yang lalu. Maka di dalam Rakernas, PDI Perjuangan meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia atas perubahan watak kekuasaan akibat ambisi kekuasaan," ujarnya.
Hasto juga menyoroti maraknya kasus kriminalisasi politik hukum. Ia menegaskan bahwa kondisi ini memunculkan kritik kuat bahwa tanpa supremasi hukum, tidak akan ada bangunan politik yang kokoh dan sistem perekonomian yang mampu tumbuh untuk kemakmuran rakyat.
Dia menegaskan, sistem hukum yang berkeadilan adalah fondasi pokok negara. "Tanpanya, tidak akan ada penghormatan terhadap kemanusiaan, kerakyatan dan keadilan. Tanpa hukum yang berkeadilan, semua menjadi mahal dan penuh ketidakpastian," pungkasnya.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Buka Suara: Tak Menyesal Bantu Jokowi, Tegaskan Keputusan Masa Lalu Sesuai Konteks
Larangan Demo di Bundaran HI Menuai Kritik Tajam: LBH Jakarta Tegaskan Polisi Jangan Ngarang Soal Objek Vital Nasional
Peta Kekuatan Pilpres 2029: Siapa King Maker di Balik Layar Perebutan Kursi Presiden?
Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp2 Miliar, Pakar Hukum dan Ade Armando Buka Fakta Riwayat Pendidikan di Singapura-Australia