Ia menilai penguasaan sumber daya alam oleh negara harus selalu diarahkan pada tujuan utama, yaitu sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Negara, kata Hasto, tidak boleh hanya mengeksploitasi kekayaan daerah demi kepentingan segelintir elite, sementara masyarakat lokal tetap hidup dalam kesulitan ekonomi.
Ia juga menekankan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan. Momentum tersebut harus disertai kontemplasi dan evaluasi terhadap kondisi keadilan sosial yang dirasakan masyarakat saat ini.
"Peringatan Hari Lahir Pancasila harus disertai dengan kontemplasi, disertai pertanyaan kritis untuk melihat realitas yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara kita," katanya.
Ia pun mempertanyakan mengapa demokrasi ekonomi yang dicita-citakan para pendiri bangsa kini cenderung bergeser ke arah yang lebih sentralistik. Hal ini mengurangi ruang bagi kedaulatan ekonomi rakyat di tingkat akar rumput.
Menurutnya, Pancasila lahir dari semangat membebaskan rakyat dari berbagai bentuk penjajahan dan penindasan. Karena itu, petani, nelayan, buruh, pedagang kecil, dan pelaku UMKM harus menjadi pusat dari setiap kebijakan ekonomi nasional.
Di akhir pidatonya, Hasto menyampaikan pesan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, agar seluruh kader partai tetap berada di garis depan dalam membela kepentingan rakyat.
"Karena itulah pesan Ibu Mega, jadilah banteng-banteng sejati yang membela setiap rakyat yang tertindas di seluruh lapisan Indonesia kita," pungkasnya.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Buka Suara: Tak Menyesal Bantu Jokowi, Tegaskan Keputusan Masa Lalu Sesuai Konteks
Larangan Demo di Bundaran HI Menuai Kritik Tajam: LBH Jakarta Tegaskan Polisi Jangan Ngarang Soal Objek Vital Nasional
Peta Kekuatan Pilpres 2029: Siapa King Maker di Balik Layar Perebutan Kursi Presiden?
Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp2 Miliar, Pakar Hukum dan Ade Armando Buka Fakta Riwayat Pendidikan di Singapura-Australia