Lagu MBG Sebagai Strategi Marketing Politik
Aisah juga menilai, viralnya lagu Mas Bahlil Ganteng menjadi pemicu (trigger) bagi Partai Golkar. Lagu dan meme yang beredar menjadi ajang promosi yang efektif dan murah menjelang kontestasi politik 2029.
"Jika dilihat dari ilmu political marketing dan political communication, fenomena lagu MBG ini bisa dikaitkan dengan beberapa teori sekaligus," jelas Aisah.
Pertama, Political Branding. Dalam teori ini, tokoh atau partai dibangun seperti sebuah merek (brand). Nama yang sering muncul, mudah diingat, dan dekat dengan budaya populer akan lebih melekat di benak publik.
Kedua, Meme Politics. Teori ini menjelaskan bagaimana figur politik menjadi bagian dari budaya meme internet. Humor, lagu viral, parodi, dan konten absurd justru membuat figur politik lebih dikenal oleh generasi muda dibandingkan kampanye formal.
Ketiga, Affective Politics. Konsep politik emosional ini menekankan bahwa orang tidak selalu mengingat program, tetapi mengingat emosi yang muncul dari sebuah simbol, lagu, atau tokoh. Sound MBG yang lucu dan mudah diingat menciptakan kedekatan emosional dengan publik.
"Jika dikaitkan dengan Partai Golkar dan Bahlil Lahadalia, secara teori ada kemungkinan terjadi brand amplification atau penguatan merek politik. Nama tokoh menjadi lebih dikenal, tingkat kesadaran (awareness) meningkat, dan citra 'dekat dengan anak muda' bisa terbentuk tanpa biaya kampanye konvensional yang besar," tutup Aisah.
Artikel Terkait
IPW Kritik Keras Febrie Belum Ditahan, Desak Prabowo Copot Jaksa Agung ST Burhanuddin
Perubahan Posisi Duduk Gibran di Sidang Kabinet: Ini Penjelasan Mensesneg
Prabowo Syok Temukan Kerusakan Indonesia Stadium Akibat Salah Urus, Dana Rp Ribuan Triliun Raib
Sidang Etik 6 Pimpinan KPU RI: Pelanggaran Administrasi Dokumen Pencalonan Jokowi di Pilpres 2014 dan 2019