Pelemahan Rupiah: Publik Butuh Solusi Ekonomi Nyata, Bukan Sekadar Narasi
Pelemahan nilai tukar rupiah dan berbagai persoalan ekonomi yang melanda Indonesia saat ini membutuhkan respons berupa langkah nyata dan terukur, bukan sekadar narasi yang bertujuan menenangkan publik. Hal ini disampaikan oleh analis ekonomi politik, Kusfiardi, dalam menanggapi kondisi perekonomian nasional yang tengah menghadapi tekanan signifikan terhadap rupiah serta meningkatnya kekhawatiran masyarakat akan arah kebijakan ekonomi pemerintah.
Kesenjangan Ekspektasi dan Realitas Ekonomi
Menurut Kusfiardi, salah satu masalah krusial yang harus segera diatasi adalah munculnya ketidaksesuaian antara ekspektasi yang dibangun pemerintah dengan realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakat di lapangan. Kondisi ini dinilai sangat berbahaya bagi stabilitas ekonomi jangka panjang.
"Jadi ada mismatch. Ekspektasi tidak ketemu dengan realitas. Kalau ini terus terjadi, ketidakpercayaan publik akan semakin menguat," ujar Kusfiardi di kanal Youtube Abraham Samad, Selasa, 9 Juni 2026.
Krisis Kepercayaan Lebih Berbahaya dari Indikator Ekonomi
Kusfiardi menilai bahwa menguatnya ketidakpercayaan publik justru lebih berbahaya dibandingkan berbagai indikator ekonomi yang sedang mengalami tekanan. Kepercayaan merupakan modal fundamental untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keyakinan para pelaku pasar. Tanpa kepercayaan, upaya pemulihan ekonomi akan menghadapi hambatan yang lebih besar.
Artikel Terkait
Amien Rais: 81 Tahun Merdeka tapi Belum Berdaulat, Kedaulatan RI Dikuasai Oligarki dan Mafia
Di Balik Gesture Jokowi ke Prabowo: Analisis Rocky Gerung Soal Suplai Energi Politik Hambalang vs Solo
Elektabilitas Dedi Mulyadi Tembus 35%, Ancam Prabowo: Siap Berlabuh ke Anies jika Diasingkan Gerindra di Pilpres 2029?
Jokowi Siapkan PSI sebagai Kendaraan Politik Gibran untuk Pilpres 2029: Skenario dan Kalkulasi di Tengah Ketidakpastian