Menurutnya, kondisi itu berbanding terbalik dengan dukungan masyarakat Lampung pada Pilpres 2019, ketika Jokowi meraih sekitar 59,71 persen suara. Bahkan, dalam kunjungan tersebut sempat muncul aksi penolakan dari sebagian warga. Jamiluddin menilai kondisi itu mengindikasikan daya tarik politik Jokowi tidak lagi sekuat sebelumnya. Karena itu, peluang Jokowi mengerek suara PSI hingga lolos ke Senayan dinilai relatif kecil.
Ia bahkan menyebut safari politik Jokowi sarat spekulasi untuk memenuhi ambisi politiknya, sementara hasil yang diperoleh PSI belum tentu sebanding. Lanjut Jamiluddin, tantangan akan semakin berat apabila PSI membidik basis pemilih nasionalis yang selama ini menjadi kantong suara 'wong cilik' yang cenderung loyal pada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
"Kelompok marhaen ini sangat loyal terhadap trah Soekarno, khususnya Megawati Soekarnoputri. Selama PDIP masih dipimpin trah Soekarno, tampaknya sulit bagi Jokowi untuk mengalihkan mereka ke PSI. Karena itu, menargetkan suara yang relatif sama dengan PDIP tampaknya kekeliruan fatal. PSI akan berpeluang tetap menjadi partai gurem," pungkasnya.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Buka Suara: Tak Menyesal Bantu Jokowi, Tegaskan Keputusan Masa Lalu Sesuai Konteks
Larangan Demo di Bundaran HI Menuai Kritik Tajam: LBH Jakarta Tegaskan Polisi Jangan Ngarang Soal Objek Vital Nasional
Peta Kekuatan Pilpres 2029: Siapa King Maker di Balik Layar Perebutan Kursi Presiden?
Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp2 Miliar, Pakar Hukum dan Ade Armando Buka Fakta Riwayat Pendidikan di Singapura-Australia