Megawati Pimpin Rapat Strategis PDIP: 8 Langkah Tanggap Darurat Hadapi El Nino dan Krisis Pangan 2026-2027

- Rabu, 01 Juli 2026 | 12:25 WIB
Megawati Pimpin Rapat Strategis PDIP: 8 Langkah Tanggap Darurat Hadapi El Nino dan Krisis Pangan 2026-2027

Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri memimpin langsung rapat strategis partai untuk merumuskan langkah konkret menghadapi ancaman krisis iklim global. Rapat DPP ke-59 ini digelar di Sekolah Partai Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Rabu, 1 Juli 2026, didampingi Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto, serta Ketua DPP Eriko Sotarduga dan Bintang Puspayoga.

Dalam rapat tersebut, Megawati sempat berbincang singkat dengan sejumlah Ketua DPP sebelum memulai agenda utama. Hasto Kristiyanto menjelaskan bahwa hasil rapat akan dituangkan dalam instruksi resmi DPP PDIP sebagai amanat partai.

"Dengan instruksi ini, partai menegaskan kesiapsiagaan penuh dalam mengantisipasi potensi fenomena El Nino dan ancaman musim kemarau panjang," ujar Hasto dalam keterangannya, Rabu, 1 Juli 2026.

Urgensi penanganan krisis ini semakin nyata setelah data terbaru dirilis dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah oleh Kementerian Dalam Negeri secara hibrida di Jakarta, Senin, 29 Juni 2026. Fenomena El Nino di Indonesia diprediksi tidak hanya berlangsung singkat, melainkan membentang panjang mulai Mei 2026 hingga Mei 2027.

Anomali kenaikan suhu Samudra Pasifik ini menjadi ancaman serius karena berpotensi memicu kekeringan ekstrem yang dapat menurunkan produksi pangan secara drastis serta memicu inflasi pangan nasional. BMKG telah merilis bahwa El Nino di Indonesia aktif sejak Mei 2026.

Kondisi berkepanjangan ini menyimpan risiko ganda yang kompleks. Fase akhir El Nino pada Mei 2027 diperkirakan berbarengan dengan siklus musim kemarau dan musim hujan di Indonesia. Dampak paling nyata yang mulai membayangi adalah ancaman terhadap ketersediaan pasokan air untuk jaringan irigasi pertanian.

Hingga akhir Juni 2026, BMKG mencatat sejumlah wilayah Indonesia telah memasuki zona musim kemarau. Di Bali dan Nusa Tenggara, kekeringan melanda 69 dari 75 zona musim (92,0 persen). Pulau Jawa mencatat 140 dari 193 zona musim terdampak (72,5 persen), disusul Kalimantan dengan 6 dari 67 zona musim terdampak.


Halaman:

Komentar