Mantan Sekretaris Kementerian BUMN sekaligus pengamat kebijakan publik, Muhammad Said Didu, memberikan analisis tajam terkait gelombang serangan politik yang ditujukan kepada pemerintah. Dalam video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya dan akun X @msaid_didu pada Sabtu (1/8/2026), Said Didu mengungkap adanya kelompok yang ia sebut sebagai "Geng Solo, Oligarki, Parcok, dan Parjo (Geng SOP)" yang dinilai berusaha melumpuhkan agenda prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Tiga Obor Prabowo Jadi Sasaran Serangan Politik
Menurut Said Didu, "serangan" yang dilancarkan Geng SOP secara sistematis bertujuan untuk merusak dan menggagalkan tiga agenda utama pemerintahan yang dikenal dengan istilah "Tiga Obor". Ketiga agenda tersebut meliputi pemberantasan korupsi, penertiban oligarki, serta pengembalian aset-aset negara yang dikuasai pihak tidak bertanggung jawab. Said Didu menilai pergeseran situasi politik ini sangat krusial dan patut diwaspadai.
"Jika pada awal masa pemerintahan publik berharap Presiden Prabowo dapat secara agresif menertibkan para oligarki, keraguan dalam membenahi faksi-faksi internal justru memicu serangan balik. Kelompok oligarki ini kini dinilai sedang membalas dengan menyerang langsung pusat komando penertiban aset negara yang dipimpin oleh Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin," papar Said Didu dalam keterangannya.
Lima Alasan Sjafrie Sjamsoeddin Jadi Target Utama
Melalui unggahan di media sosial X, Said Didu membeberkan lima alasan utama mengapa Sjafrie Sjamsoeddin menjadi sasaran empuk serangan media sosial dan pembunuhan karakter oleh Geng SOP. Alasan-alasan ini menjelaskan mengapa figur sentral dalam Tim Penertiban Kawasan Hutan (PKH) dan Badan Industri Mineral (BIM) tersebut terus menjadi sorotan.
Pertama, Sjafrie adalah tangan kanan Presiden Prabowo melalui Tim PKH dan BIM, dua lembaga yang dibentuk untuk mengeksekusi Tiga Obor. Kedua, loyalitas Sjafrie hanya tertuju kepada Presiden secara tunggal. Ketiga, gaya kerjanya yang hitam-putih dan tanpa kompromi membuatnya disegani sekaligus ditakuti lawan. Keempat, hampir semua perampok negara dan penikmat hasil rampokan merasa terusik oleh keberadaan Pak SS. Kelima, adanya dugaan faksi dalam pemerintahan Prabowo yang menjadi pintu kepentingan Geng SOP.
Artikel Terkait
Kaesang Maju Caleg DPR RI di Jateng V: Strategi Menggempur Kandang Banteng PDI-P Demi Tembus Senayan
Elektabilitas Dedi Mulyadi Melesat Lampaui Prabowo, Sinyal Perpecahan di Gerindra atau Skenario Politik Baru Menuju Pilpres?
Amien Rais: Korupsi Era Jokowi Membuncah, Kini Melibatkan Lembaga Negara di Era Prabowo
Gerindra Diminta Terapkan Disiplin Senyap: Larangan Elit Sindir Dedi Mulyadi di Media Jadi Sorotan Pengamat