"Andai 14 menteri itu tidak mundur, mungkin Soeharto masih bertahan. Ada tumpah darah," tegasnya, merujuk pada peristiwa bersejarah 20 Mei 1998.
Syukur kemudian memberikan wejangan penting bagi Presiden Prabowo. Ia menekankan bahwa presiden tidak hanya membutuhkan loyalis, tetapi juga orang-orang jenius yang mampu mengoperasikan visi dan misi kepala negara dengan baik. Menurutnya, titik lemah terbesar pemerintahan saat ini justru berada di lingkaran dalam kabinet.
"Justru dari dalam kabinet, menurut saya, sumbangsih terbesar yang membuat Presiden Prabowo gagal adalah sumbangsih dari internal kabinet itu sendiri," ungkap Syukur Mandar.
Refleksi Sejarah: Momen Mundurnya 14 Menteri
Sebagai pengingat sejarah, pada 20 Mei 1998, sebanyak 14 menteri di kabinet Soeharto menyatakan mundur secara serentak dan menolak untuk bergabung dalam Kabinet Reformasi. Langkah berani ini mengejutkan Soeharto, karena selama tiga dekade pemerintahannya, ia tidak pernah menghadapi penolakan terbuka dari para pembantunya sendiri.
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bahwa kekuatan sebuah pemerintahan tidak hanya diukur dari kemampuan mengendalikan aparat, tetapi juga dari soliditas dan integritas orang-orang terdekat yang duduk di kursi kekuasaan.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Buka Suara: Tak Menyesal Bantu Jokowi, Tegaskan Keputusan Masa Lalu Sesuai Konteks
Larangan Demo di Bundaran HI Menuai Kritik Tajam: LBH Jakarta Tegaskan Polisi Jangan Ngarang Soal Objek Vital Nasional
Peta Kekuatan Pilpres 2029: Siapa King Maker di Balik Layar Perebutan Kursi Presiden?
Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp2 Miliar, Pakar Hukum dan Ade Armando Buka Fakta Riwayat Pendidikan di Singapura-Australia