CEO Palantir: Dua Kunci Sukses Bertahan di Era AI – Pelatihan Kejuruan & Neurodivergensi

- Kamis, 30 April 2026 | 07:00 WIB
CEO Palantir: Dua Kunci Sukses Bertahan di Era AI – Pelatihan Kejuruan & Neurodivergensi

"AI akan menghancurkan pekerjaan di bidang humaniora," ujar Karp dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. "Jika Anda belajar di sekolah elit dan mengambil filsafat, saya contohkan diri saya sendiri, sebaiknya Anda memiliki keterampilan lain yang lebih mudah dipasarkan."

Palantir juga meluncurkan Program Beasiswa Meritokrasi yang ditujukan bagi lulusan SMA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Di tengah menurunnya peluang kerja entry-level bagi Generasi Z, sebagian anak muda mulai meragukan bahwa gelar sarjana saja cukup untuk menjamin kesuksesan.

Namun, tidak semua pemimpin teknologi sepakat dengan pandangan tersebut. Jaime Teevan, kepala ilmuwan Microsoft, menilai pendidikan tinggi khususnya ilmu humaniora justru tetap relevan di era AI. Ia menekankan pentingnya keterampilan metakognitif seperti fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, dan keberanian menantang ide.

"Keterampilan ini membutuhkan proses yang tidak mudah dan pemikiran mendalam. Dalam hal ini, pendidikan humaniora tradisional tetap penting," ujarnya kepada The Wall Street Journal.

Berbeda dengan Karp, Daniela Amodei, salah satu pendiri perusahaan AI Anthropic, menyatakan bahwa nilai-nilai kemanusiaan akan semakin penting di era AI. "Hal-hal yang membuat kita manusia justru akan menjadi lebih penting, bukan sebaliknya," katanya kepada ABC News. Menurutnya, perusahaan kini mencari individu dengan kemampuan komunikasi yang baik, empati tinggi, rasa ingin tahu, dan keinginan untuk membantu orang lain.

Pekerjaan yang Rentan dan Aman dari AI

Dalam studi terbaru dari GovAI dan Brookings Institution, peneliti menganalisis lebih dari 350 jenis pekerjaan berdasarkan tingkat paparan terhadap AI dan kemampuan adaptasi pekerjanya. Paparan AI merujuk pada sejauh mana tugas dalam suatu pekerjaan dapat dilakukan lebih efisien oleh AI.

Hasilnya, sekitar 37,1 juta pekerja di AS berada dalam kategori paparan AI tertinggi, termasuk penulis, layanan pelanggan, dan penerjemah. Namun, sekitar 26,5 juta di antaranya memiliki kemampuan adaptasi yang cukup tinggi, sehingga berpeluang beralih ke pekerjaan lain jika terdampak.

Pekerja yang lebih mudah beradaptasi umumnya memiliki pendidikan lebih tinggi, pengalaman beragam, berusia di bawah 55 tahun, serta tinggal di wilayah dengan pasar kerja yang kuat. Carol Chouinard dari Optum Advisory menilai bahwa pendidikan tinggi membantu individu lebih siap untuk terus belajar dan mengembangkan keterampilan baru. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kondisi ini berpotensi memperlebar kesenjangan jika tidak diatasi dengan kebijakan yang tepat.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa pekerja administrasi dan perkantoran memiliki tingkat paparan AI tertinggi dengan kemampuan adaptasi terendah. Sebanyak 86 persen dari kelompok ini adalah perempuan, yang berarti mereka berisiko terdampak secara tidak proporsional.

"Kelompok ini sangat rentan karena memiliki kontrol terbatas terhadap penggunaan AI dan peluang mobilitas kerja yang rendah," kata profesor Universitas Virginia, Allison Elias. Ia menekankan pentingnya pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan (upskilling) untuk menghadapi perubahan ini.

Di sektor kesehatan, sebagian besar pekerjaan masih relatif aman dari dampak AI. Profesi seperti teknolog bedah, perawat, dokter, serta teknisi laboratorium memiliki risiko rendah. Namun, beberapa peran seperti pekerja sosial kesehatan, teknisi farmasi, dan tenaga administrasi medis dinilai lebih rentan terhadap otomatisasi.


Halaman:

Komentar