Ibrahim juga menyoroti konflik yang terus berlangsung antara Israel, Iran, dan Hezbollah di Lebanon Selatan yang dinilai memperbesar ketidakpastian global. "Nah ini yang membuat ketegangan di Timur Tengah kemungkinan besar masih akan berlanjut sampai tahun 2027 apalagi di Selat Hormuz," tuturnya.
Harga Minyak Melonjak, Subsidi Energi Membengkak
Lonjakan harga minyak dunia menjadi ancaman serius bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi. Ibrahim menyebut harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) saat ini telah berada di kisaran 101 Dolar AS per barel. Angka ini jauh di atas asumsi APBN yang mematok harga minyak 70 Dolar AS dan kurs Rupiah Rp16.500 per Dolar AS.
"Indonesia 1,5 juta barel per hari yang melakukan impor dari luar," katanya.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut membuat pemerintah membutuhkan dana subsidi energi yang jauh lebih besar, terutama karena mayoritas impor digunakan untuk BBM bersubsidi. "Pada saat barang Dolarnya sedikit, permintaan banyak, ini yang membuat Rupiah mengalami kelemahan," jelasnya.
Musim Dividen Tambah Tekanan ke Rupiah
Selain faktor energi, tekanan terhadap Rupiah juga datang dari kebutuhan Dolar yang meningkat pada musim pembagian dividen perusahaan kepada investor asing. Hal ini semakin memperkuat prediksi bahwa Rupiah akan terus tertekan dalam waktu dekat.
"Nah ini yang membuat Rupiah kemungkinan besar, di bulan Mei tahun 2026, Rupiah yang kemungkinan besar akan tembus di level Rp18.000," pungkasnya.
Artikel Terkait
Pajak Rumah Sewa 2027: Pemerintah Incar Pemilik Rumah Kedua dan Juragan Kontrakan
Pemerintah Lunasi Utang Kopdes Merah Putih Rp240 Triliun Pakai APBN, Dicicil 6 Tahun
Harga BBM Non-Subsidi Pertamina Turun per 1 Agustus 2026: Daftar Lengkap Pertamax, Turbo, dan Dexlite di Seluruh Wilayah Indonesia
PDIP Kritik APBN 2025: Utang Rp9.658 Triliun dan Defisit Membengkak Rp54 Triliun