Menurut Ibrahim, penguatan Dolar AS juga dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang berdampak pada mahalnya impor energi Indonesia yang mencapai 1,5 juta barel per hari. Selain itu, banyak masyarakat mulai beralih meninggalkan Rupiah dengan menabung ke valuta asing (valas).
"Ini membuat Rupiah terus mengalami pelemahan ditambah dengan olok-olok dari Presiden Prabowo sendiri yang mengatakan pelemahan mata uang ini tidak berdampak terhadap masyarakat di kampung karena di kampung tidak mengenal Dolar. Ini sebenarnya apa yang dikatakan oleh Prabowo ini mengolok-olok pembantu Presiden sendiri dan para menterinya," tuturnya.
Ibrahim menekankan bahwa pemerintah seharusnya fokus menyampaikan langkah konkret untuk menahan tekanan terhadap Rupiah, mulai dari pengendalian impor minyak hingga strategi penanganan krisis. "Seharusnya pemerintah memberikan satu masukan tentang bagaimana solusi kebutuhan minyak mentah yang cukup tinggi, kemudian akan ada B50 sebagai pendamping dari bahan bakar fosil, lalu bagaimana cara menangani krisis agar Rupiah kembali mengalami penguatan," katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa Prabowo sebelumnya sempat meremehkan pelemahan IHSG, yang kemudian direspon negatif oleh pasar. Menurut Ibrahim, masyarakat di daerah saat ini sudah memahami perkembangan ekonomi dan nilai tukar mata uang asing berkat kemajuan teknologi informasi.
"Kita harus ingat dulu bahwa Prabowo bilang bermain saham itu judi, masyarakat bawah pun juga tidak mengenal saham. Tetapi kita lihat bahwa di kampung-kampung ini banyak orang yang mengenal saham. Di desa pun juga banyak orang tahu tentang Dolar. Sekarang zaman teknologi. Masyarakat yang ada di desa sekarang itu lebih pintar dibandingkan dengan masyarakat yang ada di kota," pungkasnya.
Artikel Terkait
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp7.627 Triliun di Kuartal I 2026, BI Ungkap Faktor Pendorongnya
Putusan MK: Jakarta Tetap Ibu Kota, Pengamat Nilai IKN Hanya Ambisi Pribadi Jokowi
Prabowo Diremehkan Celios: Rupiah Tembus Rp17.600, Ekonom Sebut Bahaya Besar Mengintai Desa
Rupiah Anjlok ke Rp 17.604, Utang RI Tembus Rp 9.920 Triliun: Pemerintah Klaim Masih Aman