Trump Pertimbangkan Serangan Militer ke Iran: Analisis Protes, Korban Jiwa & Ancaman Balasan

- Senin, 12 Januari 2026 | 02:50 WIB
Trump Pertimbangkan Serangan Militer ke Iran: Analisis Protes, Korban Jiwa & Ancaman Balasan

Angka-angka ini sulit diverifikasi secara independen karena pemerintah Iran tidak memberikan data resmi dan adanya pemadaman internet besar-besaran yang membatasi akses informasi. Para pengamat memperingatkan bahwa jumlah korban kemungkinan akan terus bertambah.

Ancaman dan Peringatan dari Pihak Iran

Pernyataan Presiden Trump yang menyatakan AS "siap membantu" pengunjuk rasa dan akan "menyelamatkan" mereka, memicu kemarahan pejabat Iran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, mengeluarkan peringatan keras:

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menuduh AS dan Israel berada di balik kerusuhan, menyebut para pelaku sebagai "teroris". Pemerintah Iran juga mengumumkan tiga hari berkabung nasional dan mendesak masyarakat mengikuti "pawai perlawanan nasional" untuk mengecam kekerasan.

Akar Masalah dan Tangkapan Besar-besaran

Gerakan protes ini, yang dipicu oleh jatuhnya nilai mata uang Iran, dengan cepat berkembang menjadi tuntutan reformasi politik dan penggulingan pemerintah. Analis menyebut rezim sedang melemah akibat krisis ekonomi dan dampak konflik dengan Israel.

Kepolisian Iran mengklaim telah melakukan penangkapan besar-besaran terhadap "unsur-unsur utama kerusuhan". Jaksa Agung Iran bahkan menyatakan bahwa pengunjuk rasa atau pihak yang membantu bisa dituduh sebagai "musuh Tuhan", sebuah dakwaan yang berpotensi dihukum mati.

Dukungan dan Eskalasi dari Pihak AS

Di kubu AS, seruan Trump mendapat dukungan dari beberapa senator. Senator Lindsey Graham, misalnya, menyatakan di media sosial bahwa "mimpi buruk panjang Iran akan segera berakhir". Pernyataan-pernyataan ini semakin mengindikasikan eskalasi ketegangan antara Washington dan Tehran yang berpotensi memicu konflik terbuka.


Halaman:

Komentar