Bersamaan dengan proposal, Iran menyetujui periode gencatan senjata awal selama dua minggu. Negosiasi lebih lanjut direncanakan berlangsung di Islamabad, Pakistan. Menteri Luar Negeri Iran kala itu, Abbas Araghchi, menyatakan Iran akan mengizinkan jalur maritim yang aman melalui Selat Hormuz selama pembicaraan, meski dengan koordinasi ketat militer.
Di sisi lain, Donald Trump mengumumkan penangguhan rencana serangan terhadap Iran selama dua minggu, dengan syarat Selat Hormuz dibuka kembali secara "sepenuhnya, segera, dan aman". Langkah ini disebutnya sebagai "gencatan senjata dua sisi" untuk membuka ruang diplomasi.
Reaksi dan Prospek Ke Depan
Media pemerintah Iran melaporkan negosiasi bertujuan "mengkonfirmasi pencapaian Iran di medan perang". Mereka juga menampilkan narasi kemenangan, dengan headline seperti "Trump mundur secara memalukan dari retorika anti-Iran".
Namun, kesepakatan ini menuai tanggapan beragam. Senator AS Chris Murphy dari Partai Demokrat mempertanyakan implikasi pemberian kendali atas Selat Hormuz kepada Iran, menyebutnya sebagai "kesalahan perhitungan yang luar biasa". Sementara itu, belum ada konfirmasi resmi dari AS bahwa mereka menerima seluruh 10 poin, selain pernyataan Trump bahwa proposal tersebut "bisa diterapkan".
Dengan dimulainya negosiasi, dunia menunggu apakah 10 syarat gencatan senjata Iran ini akan menjadi fondasi perdamaian historis atau sekadar jeda sementara dalam ketegangan panjang di Timur Tengah.
Artikel Terkait
UEA Ikut Serang Iran dengan Bantuan Intelijen AS dan Israel, Target Strategis Jadi Sasaran
Hamas Kecam Keras Rencana Netanyahu Kuasai 70% Wilayah Gaza, Sebut Eskalasi Berbahaya
Iran Klaim Tembak Jatuh Pesawat Militer AS, Centcom Bantah Keras
Netanyahu Perintahkan Militer Kuasai 70% Wilayah Gaza, Ekspansi Terus Berlanjut