Laporan tersebut menyebutkan bahwa militer Israel beberapa kali meminta perpanjangan waktu untuk merespons permintaan data berdasarkan Undang-Undang Kebebasan Informasi Israel. Namun, hingga tenggat berakhir, data lengkap tetap tidak diberikan.
Mengutip sumber para perwira di direktorat personalia militer dan kantor juru bicara IDF, Haaretz menyatakan ada kecenderungan untuk menunda perilisan data yang dianggap tidak menguntungkan citra militer atau para komandan. Seorang perwira bahkan mengakui adanya pihak internal yang mengetahui cara memanipulasi angka dan persentase guna menyembunyikan informasi yang tidak memuaskan militer.
“Jika juru bicara militer membutuhkan informasi untuk membantah klaim jurnalistik atau politik, mereka melakukan segala upaya untuk mendapatkannya dalam hitungan jam,” kata perwira tersebut. Ia menegaskan bahwa militer tidak ingin publik mengetahui sejauh mana tekanan psikologis yang dialami tentara Israel di lapangan.
Sumber di departemen kesehatan mental militer juga meyakini bahwa IDF sengaja menghindari publikasi data karena khawatir dapat memengaruhi moral publik Israel di tengah perang yang terus berlangsung.
Berdasarkan data asosiasi Hatzlacha yang dikutip Haaretz, hingga Juli 2025 militer Israel akhirnya setuju merilis sebagian data yang hanya mencakup tahun pertama perang Gaza. Data tersebut menunjukkan sebanyak 7.241 perwira dan tentara diberhentikan dari dinas militer karena gangguan kejiwaan.
Artikel Terkait
Perang Turki vs Israel: Analisis Kekuatan Militer Terbaru & Dampak Strategis Pakta Makkah
Embargo Dagang UEA ke Iran: Konflik Timur Tengah Memanas, Dampaknya bagi Ekonomi Global
Menteri Israel Ben Gvir Serukan Gaza Dikosongkan Permanen dan Minta Militer Bunuh 30-40 Warga Setiap Malam
Warga Gaza Rayakan HUT ke-81 RI dengan Lukisan Merah Putih di Tengah Reruntuhan