Laporan tersebut menyebutkan bahwa militer Israel beberapa kali meminta perpanjangan waktu untuk merespons permintaan data berdasarkan Undang-Undang Kebebasan Informasi Israel. Namun, hingga tenggat berakhir, data lengkap tetap tidak diberikan.
Mengutip sumber para perwira di direktorat personalia militer dan kantor juru bicara IDF, Haaretz menyatakan ada kecenderungan untuk menunda perilisan data yang dianggap tidak menguntungkan citra militer atau para komandan. Seorang perwira bahkan mengakui adanya pihak internal yang mengetahui cara memanipulasi angka dan persentase guna menyembunyikan informasi yang tidak memuaskan militer.
“Jika juru bicara militer membutuhkan informasi untuk membantah klaim jurnalistik atau politik, mereka melakukan segala upaya untuk mendapatkannya dalam hitungan jam,” kata perwira tersebut. Ia menegaskan bahwa militer tidak ingin publik mengetahui sejauh mana tekanan psikologis yang dialami tentara Israel di lapangan.
Sumber di departemen kesehatan mental militer juga meyakini bahwa IDF sengaja menghindari publikasi data karena khawatir dapat memengaruhi moral publik Israel di tengah perang yang terus berlangsung.
Berdasarkan data asosiasi Hatzlacha yang dikutip Haaretz, hingga Juli 2025 militer Israel akhirnya setuju merilis sebagian data yang hanya mencakup tahun pertama perang Gaza. Data tersebut menunjukkan sebanyak 7.241 perwira dan tentara diberhentikan dari dinas militer karena gangguan kejiwaan.
Artikel Terkait
AS Rilis 160+ Dokumen Rahasia UFO ke Publik, Termasuk Laporan Astronot Apollo
Survei Spanyol: 52,4% Warga Yakin AS dan Israel Kalah Perang Lawan Iran, Citra Trump Hancur
Arab Saudi Tolak Izin Pangkalan Udara untuk AS, Project Freedom di Selat Hormuz Terhenti
Spanyol Evakuasi Ratusan Penumpang Kapal Pesiar Terpapar Hantavirus, WHO Sebut Risiko Rendah