Menurut Haaretz, militer Israel juga diduga sengaja menghindari publikasi data lengkap mengenai tentara yang mengalami gangguan jiwa karena khawatir memengaruhi moral publik di tengah perang yang masih berlangsung. Sumber dari para perwira di direktorat personalia militer dan kantor juru bicara IDF mengatakan ada kecenderungan menahan atau menunda perilisan data yang dianggap tidak menguntungkan militer.
Seorang perwira bahkan mengungkapkan ada pihak internal yang mengetahui cara memanipulasi angka dan persentase agar kondisi sebenarnya tidak diketahui publik. "Jika juru bicara militer membutuhkan informasi untuk membantah klaim jurnalistik atau politik, mereka melakukan segala upaya untuk mendapatkannya dalam hitungan jam," kata perwira tersebut.
Haaretz sebelumnya meminta data lengkap terkait tentara yang dipecat akibat gangguan kejiwaan selama perang Gaza. Namun, permintaan itu ditolak dan berlarut-larut meski telah diajukan secara resmi melalui Undang-Undang Kebebasan Informasi Israel. Militer Israel juga disebut merahasiakan peningkatan angka bunuh diri di kalangan tentara hingga akhir 2024.
Berdasarkan data asosiasi Hatzlacha yang akhirnya dirilis sebagian oleh militer Israel, sebanyak 7.241 perwira dan tentara diberhentikan selama tahun pertama perang Gaza karena gangguan kejiwaan. Sumber pejabat direktorat personalia angkatan bersenjata Israel menyebut angka tersebut diyakini menjadi yang tertinggi dalam sejarah militer Israel.
Artikel Terkait
Perang Turki vs Israel: Analisis Kekuatan Militer Terbaru & Dampak Strategis Pakta Makkah
Embargo Dagang UEA ke Iran: Konflik Timur Tengah Memanas, Dampaknya bagi Ekonomi Global
Menteri Israel Ben Gvir Serukan Gaza Dikosongkan Permanen dan Minta Militer Bunuh 30-40 Warga Setiap Malam
Warga Gaza Rayakan HUT ke-81 RI dengan Lukisan Merah Putih di Tengah Reruntuhan