MULTAQOMEDIA.COM -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pagi.
Mata uang Indonesia bahkan sempat menyentuh level Rp 17.500 per dolar AS, yang menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 64 poin di level Rp 17.478 per dolar AS. Tekanan jual terus berlanjut hingga rupiah bergerak turun ke posisi Rp 17.502 per dolar AS pada pukul 09.14 WIB.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah dalam beberapa pekan terakhir di tengah meningkatnya tekanan global dan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi geopolitik dunia.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai gejolak di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ketidakpastian yang terus meningkat membuat investor global cenderung mencari aset aman atau safe haven seperti dolar AS.
“Ketidakpastian di Timur Tengah serta harga minyak mentah yang masih tinggi memberikan tekanan besar terhadap rupiah,” ujar Lukman.
Artikel Terkait
Wanita Indramayu Korban TPPO Pengantin Pesanan di China: Terlantar di Panti Jompo Usai Alami Kekerasan Fisik dan Seksual
Nadiem Makarim Bersyukur Dapat Tahanan Rumah, Siap Jalani Operasi dan Tetap Kooperatif dalam Kasus Korupsi Chromebook Rp809 M
Kemensos Anggarkan Rp500 Juta untuk Service Mesin Kopi, Data Pengadaan Mendadak Hilang dari Portal Publik
Panduan Lengkap Membeli Bisnis di Selandia Baru: Evaluasi Keuangan, Due Diligence & Risiko Utama