Rupiah Tembus Rp 17.500 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah

- Selasa, 12 Mei 2026 | 05:50 WIB
Rupiah Tembus Rp 17.500 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah

Kenaikan harga minyak dunia dinilai menjadi ancaman serius bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Ketika harga energi meningkat, kebutuhan dolar AS untuk impor ikut bertambah sehingga menekan nilai tukar rupiah.

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga masih dipicu ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. Investor global masih melihat dolar AS sebagai instrumen investasi yang lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Tekanan terhadap rupiah kali ini mengingatkan pasar pada krisis moneter 1998 ketika nilai tukar mata uang Indonesia sempat terpuruk akibat gelombang krisis Asia. Meski kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini dinilai jauh lebih kuat dibanding masa krisis, pelemahan rupiah tetap menjadi perhatian serius karena dapat berdampak pada inflasi, biaya impor, hingga daya beli masyarakat.

Pelemahan kurs juga berpotensi memengaruhi berbagai sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor. Di sisi lain, kondisi ini dapat menguntungkan eksportir karena pendapatan berbasis dolar AS menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah.

Pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan dari Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam volatilitas di pasar keuangan domestik. Intervensi di pasar valas maupun kebijakan moneter diperkirakan akan terus dilakukan guna menjaga kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia.


Halaman:

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler