Kasus ini bermula dari serangkaian unggahan dan pernyataan publik yang mempertanyakan keaslian ijazah Presiden Joko Widodo.
Meski pemerintah dan sejumlah lembaga pendidikan telah menegaskan keabsahan dokumen tersebut, sebagian pihak tetap menyebarkan keraguan di ruang digital.
Polda Metro Jaya sebelumnya telah menetapkan delapan tersangka dalam perkara ini.
Para tersangka dijerat dengan pasal berlapis, yakni Pasal 45 ayat (3) jo Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) tentang pencemaran nama baik melalui media elektronik, serta Pasal 310 dan 311 KUHP.
Ancaman hukuman maksimal mencapai enam tahun penjara.
Sementara itu, kuasa hukum Roy Suryo menilai penetapan kliennya sebagai tersangka merupakan bentuk kriminalisasi terhadap ekspresi publik.
Ia menyebut kliennya siap mengikuti seluruh proses hukum sembari tetap memegang prinsip kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi.
Hingga sore hari, pemeriksaan terhadap ketiganya masih berlangsung.
Polisi belum memberikan keterangan resmi terkait hasil pemeriksaan, namun memastikan proses hukum akan berjalan transparan dan sesuai prosedur.
Kasus ini menjadi salah satu isu hukum yang kembali menarik perhatian publik di akhir tahun, mempertemukan antara kebebasan berekspresi dan batas tanggung jawab di ruang digital, dua hal yang kini semakin sering bersinggungan di tengah polarisasi politik yang belum sepenuhnya reda
Sumber: Wartakota
Artikel Terkait
Prada Arif Tewas dengan 10 Luka Tusuk di Tangerang, Polisi Tangkap 4 Pelaku dalam 24 Jam
Hasto Kristiyanto Kritik Keras Pelibatan Babinsa Awasi Pajak: Bentuk Penyalahgunaan Kekuasaan Negara
Ahli Digital Forensik Ungkap Manipulasi Replikasi Data dalam Kasus Ijazah Jokowi
Gibran Duduk di Kursi Menteri Saat Sidang Kabinet: Isyarat Politik atau Sekadar Teknis?