"Tidak pernah ada hubungan yang saya inginkan, setujui, atau jalani secara sukarela. Pada saat itu, saya masih di bawah umur dan berada dalam situasi paksaan dan kurangnya kebebasan," tegasnya.
Ia menambahkan, penggunaan istilah 'mantan istri' menyiratkan hubungan yang sah dan sukarela, yang sama sekali tidak mencerminkan realitas yang ia alami. "Ini membingkai ulang situasi paksaan sebagai hubungan yang sah dan mendistorsi realitas," ungkap Manohara.
Seruan untuk Jurnalisme yang Etis dan Akurat
Dalam surat terbukanya, Manohara juga menyampaikan permintaan resmi kepada berbagai pihak, termasuk media, editor, dan platform digital seperti Google dan Wikipedia.
"Saya meminta untuk berhenti menggunakan label ini ketika merujuk kepada saya. Terus menerbitkan artikel dengan penggambaran yang salah ini bukan hanya tidak akurat, tapi juga merupakan jurnalisme yang tidak etis," tulisnya.
Ia menekankan bahwa permintaannya ini adalah soal keakuratan, etika, dan penggunaan bahasa yang bertanggung jawab. "Para penyintas berhak agar kisah mereka diceritakan dengan jujur dan bermartabat," pungkas Manohara Odelia.
Artikel Terkait
Prada Arif Tewas dengan 10 Luka Tusuk di Tangerang, Polisi Tangkap 4 Pelaku dalam 24 Jam
Hasto Kristiyanto Kritik Keras Pelibatan Babinsa Awasi Pajak: Bentuk Penyalahgunaan Kekuasaan Negara
Ahli Digital Forensik Ungkap Manipulasi Replikasi Data dalam Kasus Ijazah Jokowi
Gibran Duduk di Kursi Menteri Saat Sidang Kabinet: Isyarat Politik atau Sekadar Teknis?