"Tidak pernah ada hubungan yang saya inginkan, setujui, atau jalani secara sukarela. Pada saat itu, saya masih di bawah umur dan berada dalam situasi paksaan dan kurangnya kebebasan," tegasnya.
Ia menambahkan, penggunaan istilah 'mantan istri' menyiratkan hubungan yang sah dan sukarela, yang sama sekali tidak mencerminkan realitas yang ia alami. "Ini membingkai ulang situasi paksaan sebagai hubungan yang sah dan mendistorsi realitas," ungkap Manohara.
Seruan untuk Jurnalisme yang Etis dan Akurat
Dalam surat terbukanya, Manohara juga menyampaikan permintaan resmi kepada berbagai pihak, termasuk media, editor, dan platform digital seperti Google dan Wikipedia.
"Saya meminta untuk berhenti menggunakan label ini ketika merujuk kepada saya. Terus menerbitkan artikel dengan penggambaran yang salah ini bukan hanya tidak akurat, tapi juga merupakan jurnalisme yang tidak etis," tulisnya.
Ia menekankan bahwa permintaannya ini adalah soal keakuratan, etika, dan penggunaan bahasa yang bertanggung jawab. "Para penyintas berhak agar kisah mereka diceritakan dengan jujur dan bermartabat," pungkas Manohara Odelia.
Artikel Terkait
3 Kebijakan Pemerintah yang Memberatkan Kelas Menengah: BBM Naik, Mobil Listrik Kena Pajak, hingga Tol Kena PPN
Vaksin HPV untuk Laki-Laki Dimulai 2026: Sasaran, Manfaat, dan Strategi Cegah Kanker Serviks
Polemik Ijazah Jokowi Menurut Pengacara: Tak Selesai Meski Ditunjukkan ke Publik
Rismon Sianipar Akui Ijazah Jokowi Asli: Analisis Forensik Ungkap Watermark UGM