"Meski secara ekonomi belum sejahtera, mereka tetap merasa dan mengaku bahagia karena keyakinannya. Pengakuan ini tulus dan apa adanya," jelasnya.
Prinsip serupa berlaku bagi kelompok yang mengejar keseimbangan. Ketika kesejahteraan duniawi belum maksimal, keyakinan akan kehidupan akhirat yang lebih baik tetap menjadi penopang kebahagiaan.
"Kesimpulannya, kebahagiaan rakyat Indonesia lebih bersumber dari keimanan, bukan semata-mata dari pencapaian kesejahteraan ekonomi," pungkas Jamiluddin.
Respons Presiden Prabowo atas Temuan Survei
Presiden Prabowo Subianto mengaku terharu dengan hasil survei GFS tersebut. Dalam pidatonya di acara Natal Nasional 2025 di Tenis Indoor, Senayan, Jakarta, ia menyampaikan kebanggaannya.
"Negara yang paling nomor satu di dunia sekarang, rakyat yang mengatakan bahagia adalah bangsa Indonesia. Ini mengharukan bagi saya," ujar Presiden Prabowo.
Riset ini membuka diskusi penting tentang dimensi kebahagiaan yang multidimensi, di mana faktor spiritual dan keimanan ternyata memainkan peran sangat signifikan dalam membentuk kepuasan hidup masyarakat Indonesia, melampaui parameter materiil konvensional.
Artikel Terkait
Viral Video Vell TikTok 8 Menit: Fakta, Tato Sensitif & Bahaya Link Palsu
Penkopassus Bantah Isu Seskab Teddy Ditampar Pangkopassus: Klarifikasi Lengkap dan Kronologi Hoaks
Ade Armando & Abu Janda Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Ini Penyebab & Respons Mereka
Forklift Modern 2024: Tantangan, Peluang & Solusi Efisiensi Logistik Terbaru