Analisis Politik Indonesia: Peran Avonturir, Ulama, dan Dampak Transisi Kekuasaan

- Rabu, 22 April 2026 | 05:50 WIB
Analisis Politik Indonesia: Peran Avonturir, Ulama, dan Dampak Transisi Kekuasaan

Analisis Dinamika Politik: Peran Avonturir, Ulama, dan Transisi Kekuasaan

Penulis: Damai Hari Lubis

Ketua Korlabi

Kelompok yang diwakili oleh figur seperti Said Didu, Roy, dan Refly Harun, bersama dengan Ikrar N. Bakti serta ekonom Antoni B dan mantan Ketua KPK A. Samad, tidak termasuk dalam barisan politik identitas seperti Barisan Ulama Istiqomah. Interaksi mereka dengan kalangan ulama lebih bersifat kunjungan politis praktis.

Mereka adalah mantan pejabat publik dari era pemerintahan SBY dan Jokowi. Muncul tudingan publik bahwa mungkin ada kekecewaan pribadi, misalnya Refly sebagai eks-Komisaris Pelindo, terhadap pemerintahan Jokowi, terutama terkait figur seperti Erick Thohir yang tetap bertahan di kabinet.

Pengaruh SP3 dan Pergeseran Kekuatan

Keaktifan kelompok ini dalam menyoroti berbagai isu diduga terkait dengan keluarnya Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) untuk dua tokoh aktivis ulama, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis. Dinamika transisi kekuasaan saat ini menciptakan situasi di mana kelompok politisi pragmatis berusaha mencari celah pengaruh.

Secara historis, basis politik tertentu sejak era Reformasi 1998 dikenal tidak sejalan dengan figur Prabowo Subianto. Basis ini juga kerap mengkritik Jokowi, yang dianggap tidak dekat dengan barisan ulama tertentu. Kini, kelompok avonturir politik tersebut terlihat semakin melemah pascaditinggalkan oleh beberapa tokoh kunci.


Halaman:

Komentar