Lebih mengejutkan lagi, muncul pernyataan bahwa ada sekitar 41 nama yang diduga terlibat dalam praktik jual beli titik SPPG. Jika angka itu benar, maka yang terlihat sekarang mungkin baru ujung kumis tikus. Ekornya masih berkeliaran di lorong-lorong gelap birokrasi sambil membawa proposal dan stempel. Kejaksaan Agung masih terus melakukan pendalaman, yang berarti cerita ini belum tamat. Filmnya mungkin baru masuk episode pembuka.
Krisis Kepercayaan: Masalah Terbesar MBG
Publik mulai kehilangan kepercayaan. Bukan karena mereka anti-gizi, bukan karena mereka ingin anak-anak kelaparan, dan bukan juga karena mereka membenci program MBG. Mereka hanya sudah terlalu lelah dibohongi. Siklusnya selalu sama: hari ini ditemukan korupsi, besok diumumkan perbaikan, lusa ditemukan korupsi baru, minggu depan diumumkan reformasi, dan bulan depan muncul tersangka tambahan. Siklus ini berputar seperti komidi putar yang mesinnya tidak pernah dimatikan.
Pertanyaan yang semakin sulit dijawab oleh para pembela program adalah: Jika sejak awal dana triliunan rupiah saja sudah mengundang kerumunan pemburu rente, apa yang membuat publik yakin gelombang berikutnya tidak akan lebih besar? Apa yang mau diperbaiki? Sistemnya? Orangnya? Pengawasnya? Atau tikusnya yang diminta bertugas menjaga gudang beras?
Masalah terbesar MBG hari ini bukan lagi soal menu, telur, susu, ayam, atau tempe. Masalah terbesar adalah krisis kepercayaan. Publik tidak percaya uangnya akan sampai utuh. Publik tidak percaya nilai gizinya akan sesuai laporan. Publik tidak percaya pengawasnya mampu mengawasi. Publik tidak percaya pelakunya hanya enam orang. Ketika kepercayaan sudah runtuh, presentasi PowerPoint setebal apa pun tidak akan cukup untuk memperbaikinya.
Kesimpulan: Siapa yang Memperbaiki?
Ketika ada yang berkata, "Kalau MBG salah, perbaiki, jangan disetop," publik sebenarnya ingin bertanya balik. Baik, diperbaiki. Tapi siapa yang memperbaiki? Orang yang sama? Sistem yang sama? Lingkaran yang sama? Atau tikus-tikus yang selama ini ikut menikmati keju? Sebab, jika jawabannya masih itu-itu juga, jangan salahkan rakyat jika mereka mulai berpikir bahwa yang sedang diperbaiki bukanlah programnya, melainkan cara membagi-bagi remahannya.
Semoga artikel ini dibaca oleh mereka yang masih bersemangat mendukung MBG. Jika merasa baper, mari kita seruput Koptagul di malam minggu ini.
Artikel Terkait
50 Tokoh Siap Jadi Penjamin, Kuasa Hukum Ajukan Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa
Roy Suryo Ajukan Penangguhan Penahanan, 50 Tokoh Nasional Siap Jadi Penjamin
Din Syamsuddin: Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Dipaksakan, Siap Jadi Penjamin
Guru Besar Kritik Polda Metro Jaya: Penanganan Kasus Roy Suryo dan Dokter Tifa Tidak Profesional