"Ini Pak Prabowo yang menyatakan tidak nyaman," kata Yunarto.
Selain itu menurut Yunarto, pernyataan Jokowi itu baginya agak menyedihkan.
"Buat saya agak menyedihkan seorang presiden yang seharusnya sudah menghabiskan masa jabatan itu, harusnya menjadi stateman atau seorang negarawan," ujar Yunarto.
Ia mencontohkan apa yang dilakukan mantan presiden sebelumnya yakni SBY dan Megawati Soekarnoputri.
"Pak SBY berbicara misalnya mengenai malaria dalam konteks global, diundang di luar negeri tentang peradaban dunia dan konstelasi global yang baru dalam institutnya Dino Patti Jalal," kata Yunarto.
"Ibu Mega diundang oleh Paus. Harusnya itu yang dimainkan oleh seorang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri," kata dia.
Pernyataan Jokowi ini menurut Yunarto semakin menjustifikasi bahwa Jokowi menempatkan Prabowo-Gibran bukan keberlanjutan program, tapi konstelasi kekuasaan.
"Yang bahkan ketika belum setahun, sudah menempatkan seakan-akan keduanya harus jadi kembali. Dan itu melampaui tata negara, bahwa tidak bisa ada orang yang dipatok dari awal harus berpasangan dengan orang yang sama," ujarnya
Sumber: Wartakota
Artikel Terkait
IPW Kritik Keras Febrie Belum Ditahan, Desak Prabowo Copot Jaksa Agung ST Burhanuddin
Perubahan Posisi Duduk Gibran di Sidang Kabinet: Ini Penjelasan Mensesneg
Prabowo Syok Temukan Kerusakan Indonesia Stadium Akibat Salah Urus, Dana Rp Ribuan Triliun Raib
Sidang Etik 6 Pimpinan KPU RI: Pelanggaran Administrasi Dokumen Pencalonan Jokowi di Pilpres 2014 dan 2019