"Ini Pak Prabowo yang menyatakan tidak nyaman," kata Yunarto.
Selain itu menurut Yunarto, pernyataan Jokowi itu baginya agak menyedihkan.
"Buat saya agak menyedihkan seorang presiden yang seharusnya sudah menghabiskan masa jabatan itu, harusnya menjadi stateman atau seorang negarawan," ujar Yunarto.
Ia mencontohkan apa yang dilakukan mantan presiden sebelumnya yakni SBY dan Megawati Soekarnoputri.
"Pak SBY berbicara misalnya mengenai malaria dalam konteks global, diundang di luar negeri tentang peradaban dunia dan konstelasi global yang baru dalam institutnya Dino Patti Jalal," kata Yunarto.
"Ibu Mega diundang oleh Paus. Harusnya itu yang dimainkan oleh seorang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri," kata dia.
Pernyataan Jokowi ini menurut Yunarto semakin menjustifikasi bahwa Jokowi menempatkan Prabowo-Gibran bukan keberlanjutan program, tapi konstelasi kekuasaan.
"Yang bahkan ketika belum setahun, sudah menempatkan seakan-akan keduanya harus jadi kembali. Dan itu melampaui tata negara, bahwa tidak bisa ada orang yang dipatok dari awal harus berpasangan dengan orang yang sama," ujarnya
Sumber: Wartakota
Artikel Terkait
PKS Tolak Kenaikan Harga BBM Subsidi 2026: Solusi Alternatif & Dampak ke APBN
Syahganda Nainggolan Sebut Hanya Soekarno dan Prabowo Presiden Ideologis, Ini Alasannya
Buni Yani Kritik KPK: Fokus ke Kasus Fadia Arafiq, Abaikan Dugaan ke Keluarga Jokowi?
Jokowi dan Langkah Politik Menuju 2029: Analisis Pakar Soal Pengaruh dan Dukungan ke PSI