Meski memberi sindiran, Khozinudin menilai langkah kedua tersangka tersebut sebagai dinamika hidup yang wajar. "Tak perlu menganggap itu anomali. Biasa saja. Ada yang lurus ada yang bengkok. Ada yang tegak ada yang loyo, ada pemberani ada pengecut," katanya.
Ia kemudian menambahkan kalimat tegas, "Ada pejuang ada pecundang."
Lebih lanjut, Khozinudin menyatakan bahwa keputusan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis harus menjadi bahan introspeksi. "Jangan berjuang mencari pamrih materi, baik pujian, harta, kedudukan, hingga dianggap sebagai pahlawan," pungkasnya.
Kasus ini terus menjadi sorotan publik, menyusul perkembangan terbaru dengan ditemuinya Jokowi oleh dua tersangka yang sebelumnya aktif menyuarakan kritik terkait isu ijazah.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Buka Suara: Tak Menyesal Bantu Jokowi, Tegaskan Keputusan Masa Lalu Sesuai Konteks
Larangan Demo di Bundaran HI Menuai Kritik Tajam: LBH Jakarta Tegaskan Polisi Jangan Ngarang Soal Objek Vital Nasional
Peta Kekuatan Pilpres 2029: Siapa King Maker di Balik Layar Perebutan Kursi Presiden?
Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp2 Miliar, Pakar Hukum dan Ade Armando Buka Fakta Riwayat Pendidikan di Singapura-Australia