Ia merinci bahwa sepuluh tahun terakhir merupakan periode 'hancur-hancuran'. Beberapa poin kerusakan yang disebutkan meliputi:
- Kehancuran pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
- Utang negara yang berlipat ganda.
- Absennya pertanggungjawaban atas kondisi tersebut.
Proyek Infrastruktur dan Isu Markup
Ryaas juga menyoroti proyek-proyek infrastruktur besar. Ia menuding banyak proyek pemerintah mengandung markup, dengan menyebut contoh proyek kereta cepat Whoosh yang menjadi polemik.
"Jadi ini (Whoosh) luar biasa korupsinya. Itu pun dilindungi oleh Pak Prabowo," tandasnya. Ia mengkritik upaya Menteri Pertahanan saat itu, Prabowo Subianto, yang disebutnya berusaha mengambil alih pembahasan masalah proyek yang bermasalah.
Pernyataan kontroversial dari akademisi senior ini kembali memantik perdebatan publik mengenai evaluasi kinerja pemerintahan era Joko Widodo.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Buka Suara: Tak Menyesal Bantu Jokowi, Tegaskan Keputusan Masa Lalu Sesuai Konteks
Larangan Demo di Bundaran HI Menuai Kritik Tajam: LBH Jakarta Tegaskan Polisi Jangan Ngarang Soal Objek Vital Nasional
Peta Kekuatan Pilpres 2029: Siapa King Maker di Balik Layar Perebutan Kursi Presiden?
Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp2 Miliar, Pakar Hukum dan Ade Armando Buka Fakta Riwayat Pendidikan di Singapura-Australia