MULT AQOMEDIA.COM - Suhu politik nasional mulai memanas jelang Pilpres 2029. Meski masih tiga tahun lagi, wacana tentang potensi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi lawan politik Presiden Prabowo Subianto semakin ramai diperbincangkan. Dinamika ini memicu spekulasi dan analisis dari berbagai kalangan pengamat politik.
Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, menilai peluang tersebut sangat terbuka. Menurutnya, Prabowo kemungkinan besar akan memilih figur calon wakil presiden lain yang lebih sesuai dengan kriteria kepemimpinannya. "Gibran lebih berpotensi menjadi lawan Prabowo ketimbang pasangan," kata Erizal, Rabu (20/5/2026).
Pernyataan ini kembali memicu perdebatan publik soal relasi politik antara Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dengan Presiden Prabowo Subianto. Fokus utama adalah narasi "Prabowo-Gibran dua periode" yang beberapa kali disampaikan Jokowi. Wartawan senior Edy Mulyadi menilai narasi tersebut bukan sekadar dukungan politik biasa, melainkan strategi penguncian kekuasaan jangka panjang.
"Ucapan Jokowi tentang dua periode bukan sekadar dukungan. Itu upaya penguncian politik agar posisi Gibran tetap aman di lingkar inti kekuasaan sampai 2034," tulis Edy Mulyadi dalam rilisnya, Kamis (21/5/2026). Menurut Edy, narasi ini mengandung pesan tersirat agar Prabowo tidak mengganti Gibran pada Pilpres mendatang. Jika itu terjadi, potensi tekanan politik akan sangat besar, termasuk munculnya framing pengkhianatan terhadap kesinambungan kekuasaan, pergerakan relawan, hingga mesin opini digital.
Artikel Terkait
Uskup Agung Merauke Buka Suara: Film Pesta Babi Dinilai Propaganda dan Fitnah
Menkeu Ungkap Praktik Manipulasi Ekspor CPO via Singapura, Negara Dirugikan Triliunan
Rahasia Pertemuan Jokowi dan Prabowo: Hidangan Bebek dan Soto Bermuatan Filosofi Politik agar Manut
Intimidasi Aktivis dan Pembubaran Diskusi: Bukti Kembalinya Pola Orde Baru di Era Reformasi