"Sejak sekarang pagar politiknya sedang dipasang," ujarnya. Edy juga menyoroti proses politik yang mengantarkan Gibran menjadi wakil presiden sebagai bagian dari desain keberlanjutan kekuasaan dinasti politik. Jika duet Prabowo-Gibran bertahan hingga 2029, Gibran akan memperoleh pengalaman kekuasaan selama 10 tahun penuh, menjadi modal besar menuju Pilpres 2034.
"Gibran bisa membangun jaringan birokrasi, militer, bisnis, internasional, dan partai politik. Itu modal luar biasa untuk menjadi capres utama pada 2034," katanya. Namun, jika terjadi pecah kongsi politik, Edy menilai keluarga Jokowi tetap berada pada posisi menguntungkan karena Gibran sudah memiliki panggung nasional dan basis politik sendiri.
Karena itu, ia mengingatkan Prabowo agar berhati-hati membaca arah dinamika politik ke depan. "Prabowo adalah presiden. Mandat rakyat ada di tangannya. Jangan sampai pusat gravitasi kekuasaan perlahan bergeser ke kelompok lain yang punya agenda jangka panjang berbeda," tegasnya. Edy juga menilai sejarah politik Indonesia menunjukkan banyak pemimpin akhirnya terjebak dalam lingkar kekuasaan yang awalnya dianggap sekutu politik.
"Hari ini hubungan Prabowo dan Jokowi terlihat mesra. Tapi politik bukan soal perasaan. Ini soal kepentingan dan keberlanjutan pengaruh," tulisnya. Ia menegaskan rakyat memilih Prabowo untuk memimpin Indonesia, bukan menjadi jembatan bagi konsolidasi dinasti politik baru. "Jika tidak hati-hati, demokrasi perlahan bisa berubah jadi kerajaan modern. Pemilu tetap ada, rakyat tetap datang ke TPS, tetapi kekuasaan hanya berputar di lingkar darah yang sama," pungkasnya.
Artikel Terkait
Uskup Agung Merauke Buka Suara: Film Pesta Babi Dinilai Propaganda dan Fitnah
Menkeu Ungkap Praktik Manipulasi Ekspor CPO via Singapura, Negara Dirugikan Triliunan
Rahasia Pertemuan Jokowi dan Prabowo: Hidangan Bebek dan Soto Bermuatan Filosofi Politik agar Manut
Intimidasi Aktivis dan Pembubaran Diskusi: Bukti Kembalinya Pola Orde Baru di Era Reformasi