Prestasi ini membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi penghalang untuk mencapai mimpi besar.
Ubah Peta Kedaulatan Tanpa Senjata
Usai menyelesaikan pendidikan, Hasjim Djalal memilih kembali ke tanah air. Alih-alih membangun karier di luar negeri, ia mendedikasikan ilmunya untuk kepentingan negara. Salah satu kontribusi terbesarnya adalah keterlibatan dalam memperjuangkan konsep Wawasan Nusantara bersama Mochtar Kusumaatmadja. Gagasan ini menjadi fondasi penting dalam pengakuan internasional terhadap wilayah laut Indonesia.
Dino menjelaskan bagaimana perjuangan tersebut menghasilkan dampak luar biasa bagi negara. “Wilayah kedaulatan Indonesia yang tadinya sekitar satu juta kilometer persegi jadi double menjadi dua juta kilometer persegi tanpa satu pun peluru dikeluarkan,” tegas Dino dalam video.
Pernyataan itu menggambarkan bagaimana diplomasi dan pemikiran strategis mampu memberikan keuntungan besar bagi Indonesia tanpa harus melalui konflik bersenjata. Dino menjelaskan, konsep Nusantara yang kala itu ditentang oleh negara-negara maritim besar seperti Amerika Serikat (AS), Uni Soviet (sekarang Rusia), Jepang, hingga Inggris, kini justru menjadi konvensi hukum laut PBB.
Bagi Dino, pencapaian ayahnya tidak semata-mata lahir dari kecerdasan. Ada satu faktor yang paling menentukan perjalanan hidup Hasjim Djalal, yaitu kesempatan atau peluang. Kesempatan untuk belajar, mengembangkan diri, dan berkarya menjadi modal yang mengubah seorang anak kampung menjadi diplomat kelas dunia.
"Dan apa pelajarannya? Di Sumatra Barat ini banyak sekali anak-anak yang mempunyai talenta terpendam. Si Hasjim Djalal ini datang dari keluarga miskin kampung yang jauh, yang membuat hidupnya berubah, dan hidup anak-anaknya berubah, seperti saya itu apa? Satu hal, peluang. Peluang, dia dapat peluang. Peluang untuk sekolah, peluang untuk berkarya," paparnya.
Pesan itulah yang ingin disampaikan Dino kepada generasi muda Indonesia: bahwa pendidikan dapat menjadi jalan perubahan sosial yang sangat kuat. Mimpi besar tidak ditentukan oleh tempat seseorang dilahirkan, melainkan oleh peluang yang dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh.
"Itu menurut saya adalah tanggung jawab kita semua. Pemerintah, Pemda, dan DPRD, bagaimana ribuan ratusan ribu anak-anak di Sumatra Barat yang pelajar, pemimpin, pemikir ini bisa mendapat peluang sehingga mereka kelak bisa menjadi Bung Hatta Sutan Sjahrir, Mohammad Yamin, Buya Hamka, Haji Agus Salim, Emil Salim dan lain sebagainya," tutup Dino.
Artikel Terkait
Sinyal 98 Jilid 2 Menguat, Noel Desak Prabowo Segera Rangkul PDIP dan Habib Rizieq
Chatib Basri Pulang ke RI Mendadak, Spekulasi Jadi Menteri Keuangan Baru Makin Kuat
Pangkat Kehormatan Jenderal: Antara Penghargaan Militer dan Komunikasi Politik Rezim
Purbaya Buka Suara: Bantah Mundur dari Menkeu dan Isu Geser ke Gubernur BI