Meski demikian, Selamat mengingatkan bahwa dinamika ini berpotensi berkembang menjadi faksionalisme permanen jika basis loyalitas politik di sekitar Prabowo dan Jokowi semakin berbeda arah.
Dalam kajian ilmu politik, faksionalisme muncul ketika terdapat kelompok-kelompok elite yang memiliki basis loyalitas berbeda dalam satu sistem kekuasaan.
"Jika pendukung Presiden Prabowo dan jaringan politik Jokowi semakin berbeda orientasi politiknya, maka Indonesia dapat dikatakan sedang memasuki fase kompetisi elite yang lebih intens dan keras," jelasnya.
Menurut Selamat, kompetisi antar-elite tidak selalu berwujud konflik terbuka. Proses ini juga dapat terjadi melalui negosiasi dan tawar-menawar politik.
"Faksionalisme ini dapat berlangsung dalam bentuk negosiasi. Akan ada bargaining, misalnya menjelang reshuffle kabinet dengan muncul permintaan agar tokoh tertentu tidak dicopot. Itu bagian dari dinamika politik yang mungkin terjadi," pungkasnya.
Artikel Terkait
Jokowi Dituding Tak Rela Lepas Kekuasaan: Dari Wacana 3 Periode hingga Dorong Gibran Maju Pilpres 2024
Wacana Tiga Partai Usung Capres-Cawapres Dinilai Tutup Jalan Tokoh Potensial Maju Pilpres
Megawati Pimpin Rapat Strategis PDIP: 8 Langkah Tanggap Darurat Hadapi El Nino dan Krisis Pangan 2026-2027
Aksi Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung: Pertanda Perang Politik Tak Berujung dengan PDIP?