Alasan kesehatan yang digunakan untuk penangguhan penahanan dinilai kontroversial. Pasalnya, saat tiba di Bandara Ketapang, Liu Xiaodong terlihat segar bugar dan bahkan sempat melayangkan tendangan ke arah seorang jurnalis yang sedang meliput.
Kejadian ini mempertanyakan konsistensi alasan kondisi fisik yang melemah.
Analisis Pakar Hukum Pidana
Pengamat Hukum Pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, menyoroti proses ini. Menurutnya, penangguhan penahanan sepenuhnya merupakan wewenang subjektif aparat penegak hukum.
Fickar meragukan proses pelimpahan berkas yang hanya memakan waktu satu hari. Ia menduga penangguhan penahanan telah diberikan oleh Kejaksaan sebelum berkas dilimpahkan ke pengadilan.
"Sangat mungkin ketika sudah diajukan ke pengadilan, itu sudah jadi tahanan rumah oleh jaksa. Pengadilan tidak lanjut melakukan penahanan karena sudah ditangguhkan," jelas Fickar.
Desakan Penegakan Hukum yang Tidak Tebang Pilih
Ketua Komisi I DPRD Kalbar, Rasmidi, menegaskan bahwa penegakan hukum di Indonesia tidak boleh tebang pilih, termasuk terhadap Warga Negara Asing.
"Kalau dia layak dan benar-benar bersalah, harusnya dihukum setimpal. Tidak ada toleransi dan pertimbangan ini-itu," tegas anggota Fraksi Partai Demokrat tersebut.
Kasus Liu Xiaodong ini menjadi ujian bagi penegakan hukum di Indonesia, terutama terkait transparansi, kecepatan proses, dan prinsip kesetaraan di depan hukum. Publik kini menunggu perkembangan sidang lanjutan untuk melihat akhir dari kasus pencurian emas terbesar ini.
Artikel Terkait
MAKI Kantongi Bukti Pejabat BGN Punya 20 SPPG, Desak Kejagung Tetapkan Tersangka Baru
KPK Geledah Rumah Silmy Karim di Jakarta Selatan, Dikawal Ketat Brimob Bersenjata Lengkap
Presiden Prabowo Copot Kepala BGN Sebelum Tersangka, Demokrat: Langkah Tegas Berantas Korupsi Program MBG
Mantan Wakil BGN Sony Sonjaya Jadi Justice Collaborator, Siap Bongkar Tokoh Besar di Kasus Korupsi MBG