Lebih lanjut, Elza memperingatkan potensi ledakan kemarahan dari masyarakat, terutama para investor lokal yang telah menginvestasikan dana besar untuk membangun infrastruktur dapur MBG. Ia mengungkapkan bahwa investasi untuk satu titik dapur MBG sangat fantastis, setara dengan fasilitas hotel mewah.
"Saya sudah pernah lihat dapur MBG itu sangat mewah seperti hotel, nilainya Rp 1,7 miliar sampai Rp 2 miliar. Tidak semua orang Indonesia punya uang sebanyak itu. Saya diskusi, berapa lama modal kembali? Dua tahun baru kembali," jelas Elza.
Dengan mandeknya proyek dan ketidakjelasan kasus hukum, para investor di daerah kini berada di ujung tanduk. Banyak dari mereka yang membangun dapur menggunakan dana pinjaman dari bank, rentenir, atau sumber lainnya.
"Jadi para investor MBG yang sekarang tidak bisa bekerja kemungkinan akan ngamuk-ngamuk. Yang uangnya dari pinjaman, dari rentenir, dari bank, dari segala rupa," imbuhnya.
Menurut Elza, seharusnya kasus ini bisa dibuka secara terang benderang melalui skema justice collaborator (JC). Dengan begitu, tim hukum bisa solid dan transparansi dapat dikedepankan. Namun, realitas di lapangan justru sebaliknya. Bahkan untuk sekadar menitipkan surat kepada Sony Sonjaya, Elza mengaku selalu dijegal.
"Sebetulnya saya rasa ini tim kuat untuk membantu. Tapi saya mau titip surat saja tidak bisa. Jadi ngapain saya kerja yang nantinya rugi semuanya, dan terutama perasaan saya juga rugi. Saya mundur terhitung tanggal 15 Juni ini," pungkasnya.
Artikel Terkait
Kejagung Diminta Usut Pemilik Manfaat Yayasan IFSR dalam Kasus Korupsi MBG
Kejagung Sita 17.600 Motor Listrik di Sentul dan Cikarang, Terkait Dugaan Korupsi BGN
Bos Maktour Travel Tertawa Ditanya Rp27,8 Miliar dari Korupsi Kuota Haji 2024
Bos Maktour Bungkam soal Aliran Dana Haji Gus Yaqut, Wartawan Dibilang Bahaya