Secara geografis, bagian selatan Selat Hormuz tidak layak dijadikan koridor atau jalur pelayaran maritim. Navigasi melalui perairan dangkal dan berbatu di kawasan ini sangat berisiko tinggi bagi kapal-kapal besar.
Centcom sebelumnya mengumumkan bahwa kapal-kapal perang AS berhasil membebaskan dua kapal komersial yang terjebak di Selat Hormuz sebagai bagian dari Proyek Kebebasan yang dicanangkan Presiden Donald Trump pada Minggu (3/5/2026). Proyek ini bertujuan mengevakuasi kapal-kapal yang terhambat di jalur tersebut.
Namun, Iran dengan tegas membantah adanya kapal yang berhasil lolos dari penjagaan ketat IRGC. Pemerintah Iran menegaskan bahwa tidak ada satu pun kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz tanpa otorisasi militer Iran.
Insiden ini menyoroti ketegangan yang semakin memanas di Selat Hormuz, jalur perairan paling vital bagi pasokan energi dunia. Para ahli memperingatkan bahwa situasi ini dapat berdampak langsung pada harga minyak global dan stabilitas keamanan maritim internasional.
Artikel Terkait
AS Setuju Bayar Ganti Rugi Rp5,3 Kuadriliun ke Iran: Ini 14 Poin Perjanjian Damai Bersejarah
Trump Mau Pecat Menhan dan Dirut CIA yang Tolak Perdamaian dengan Iran
Iran Ancam Serang Balik Israel Jika Serangan ke Lebanon Tak Dihentikan, Perjanjian Damai AS-Iran Terancam Gagal
Donald Trump Kecam Aksi Militer Israel di Lebanon: Tanpa AS, Tidak Akan Ada Israel