Krisis Kuba Memuncak: Kapal Induk AS Berlabuh, Raul Castro Didakwa, Ancaman Perang Mengintai

- Sabtu, 23 Mei 2026 | 14:25 WIB
Krisis Kuba Memuncak: Kapal Induk AS Berlabuh, Raul Castro Didakwa, Ancaman Perang Mengintai

"Jika musuh menyerang, revolusi kita akan membela diri hingga kemenangan tercapai dan agresor diusir," demikian bunyi dokumen tersebut.

Krisis Energi dan Penderitaan Rakyat Kuba

Di tengah ketegangan politik, warga Kuba bergulat dengan krisis kemanusiaan yang parah. Pengiriman minyak mentah pada April telah habis, menyebabkan krisis energi yang menjerumuskan sebagian besar negara ke dalam kegelapan. Menteri Energi dan Pertambangan Kuba mengumumkan bahwa negara tersebut kekurangan bahan bakar untuk menggerakkan jaringan listriknya yang sudah usang. "Kami tidak memiliki cadangan lagi," katanya.

Banyak rumah hanya menerima listrik beberapa jam setiap hari. Makanan langka atau membusuk karena kurangnya pendingin. Beberapa sekolah ditutup, mobil dan bus tidak beroperasi, dan rumah sakit kekurangan daya untuk ventilator. Michel Fernández Pérez dari organisasi nonpemerintah Cuba Próxima menggambarkan situasi ini sebagai "negara di ambang krisis yang fatal."

Diplomasi Gagal, Retorika Perang Meningkat

AS dan Kuba telah terlibat dalam pembicaraan selama berbulan-bulan, dengan pejabat Amerika menuntut perombakan ekonomi dan sistem politik satu partai. Direktur CIA John Ratcliffe bahkan melakukan perjalanan ke Havana untuk pembicaraan. Namun, para pemimpin Kuba tampaknya tidak mau membuat konsesi besar, menuduh AS tidak bertindak dengan itikad baik.

Duta besar Kuba untuk PBB menyatakan, "Retorika yang memicu perang tidak membantu." Sementara itu, Presiden Trump membantah bahwa pemerintahannya berupaya mengintimidasi Havana, namun menggambarkan Kuba sebagai "negara gagal" dan menyatakan bahwa Washington berupaya membantu mereka untuk alasan kemanusiaan.

Jajak Pendapat: 56% Warga Kuba Dukung Intervensi AS

Sebuah jajak pendapat oleh El Toque menemukan bahwa 56% penduduk Kuba mendukung intervensi militer AS. "Itulah tingkat keputusasaan yang saat ini mencengkeram rakyat Kuba," kata Fernández, yang membandingkan situasi ini dengan keputusasaan ekstrem. Di Kuba, kemarahan terhadap pemerintah atas pemadaman listrik dan salah urus ekonomi meningkat, meskipun protes sporadis dengan cepat diredam. Sebagai bentuk unjuk kekuatan, pemerintah mengorganisir protes besar untuk membela Castro di kawasan pejalan kaki tepi laut Havana.


Halaman:

Komentar