Aksi pemadaman mikrofon itu memicu gelombang protes keras dari para undangan, Sentono, dan Abdi Dalem Keraton yang hadir. Melihat kondisi semakin panas, Menteri Fadli Zon kemudian menghampiri GKR Timoer Rumbai untuk berdialog, yang juga diikuti oleh perbincangan dengan Permaisuri PB XIII.
Meskipun mendapat penolakan terbuka dari keluarga keraton, Fadli Zon tetap melanjutkan acara dan melakukan penyerahan SK secara simbolis kepada KGPA Tedjowulan.
Dalam pernyataannya, Fadli Zon menegaskan bahwa penunjukan pelaksana ini dimaksudkan untuk menjamin keberlanjutan pelindungan cagar budaya dan memastikan akuntabilitas penggunaan dana publik.
"Tujuannya untuk melakukan penjagaan terhadap cagar budaya ini dari sisi pemerintah," tandas Fadli Zon usai acara yang ricuh tersebut.
Artikel Terkait
Prada Arif Tewas dengan 10 Luka Tusuk di Tangerang, Polisi Tangkap 4 Pelaku dalam 24 Jam
Hasto Kristiyanto Kritik Keras Pelibatan Babinsa Awasi Pajak: Bentuk Penyalahgunaan Kekuasaan Negara
Ahli Digital Forensik Ungkap Manipulasi Replikasi Data dalam Kasus Ijazah Jokowi
Gibran Duduk di Kursi Menteri Saat Sidang Kabinet: Isyarat Politik atau Sekadar Teknis?