Aksi pemadaman mikrofon itu memicu gelombang protes keras dari para undangan, Sentono, dan Abdi Dalem Keraton yang hadir. Melihat kondisi semakin panas, Menteri Fadli Zon kemudian menghampiri GKR Timoer Rumbai untuk berdialog, yang juga diikuti oleh perbincangan dengan Permaisuri PB XIII.
Meskipun mendapat penolakan terbuka dari keluarga keraton, Fadli Zon tetap melanjutkan acara dan melakukan penyerahan SK secara simbolis kepada KGPA Tedjowulan.
Dalam pernyataannya, Fadli Zon menegaskan bahwa penunjukan pelaksana ini dimaksudkan untuk menjamin keberlanjutan pelindungan cagar budaya dan memastikan akuntabilitas penggunaan dana publik.
"Tujuannya untuk melakukan penjagaan terhadap cagar budaya ini dari sisi pemerintah," tandas Fadli Zon usai acara yang ricuh tersebut.
Artikel Terkait
3 Kebijakan Pemerintah yang Memberatkan Kelas Menengah: BBM Naik, Mobil Listrik Kena Pajak, hingga Tol Kena PPN
Vaksin HPV untuk Laki-Laki Dimulai 2026: Sasaran, Manfaat, dan Strategi Cegah Kanker Serviks
Polemik Ijazah Jokowi Menurut Pengacara: Tak Selesai Meski Ditunjukkan ke Publik
Rismon Sianipar Akui Ijazah Jokowi Asli: Analisis Forensik Ungkap Watermark UGM