Aksi pemadaman mikrofon itu memicu gelombang protes keras dari para undangan, Sentono, dan Abdi Dalem Keraton yang hadir. Melihat kondisi semakin panas, Menteri Fadli Zon kemudian menghampiri GKR Timoer Rumbai untuk berdialog, yang juga diikuti oleh perbincangan dengan Permaisuri PB XIII.
Meskipun mendapat penolakan terbuka dari keluarga keraton, Fadli Zon tetap melanjutkan acara dan melakukan penyerahan SK secara simbolis kepada KGPA Tedjowulan.
Dalam pernyataannya, Fadli Zon menegaskan bahwa penunjukan pelaksana ini dimaksudkan untuk menjamin keberlanjutan pelindungan cagar budaya dan memastikan akuntabilitas penggunaan dana publik.
"Tujuannya untuk melakukan penjagaan terhadap cagar budaya ini dari sisi pemerintah," tandas Fadli Zon usai acara yang ricuh tersebut.
Artikel Terkait
KPK Jamin Status Mahasiswa Unsoed Aman dan Kuliah Tetap Normal di Tengah Kasus Dugaan Pemerasan
Kronologi Lengkap Pencopotan dan Penangkapan Lodewyk Pusung: Fakta Telepon Teddy Indra Wijaya hingga Sidang Praperadilan BGN
Wafa Ahdina Mundur dari Unhan demi Pertahankan Hijab: Kisah Lengkap di Balik Keputusan Besar
KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Unsoed: Rektor dan Wakil Rektor Terjaring Dugaan Pemerasan Seleksi Mandiri