MBG: Mesin Gizi, Mesin Ekonomi, atau Mesin Uang? Analisis Kritis Program Nasional
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir dengan harapan besar sebagai intervensi negara untuk memperbaiki kualitas gizi anak sekolah, khususnya di kelompok rentan. Namun, sebagai kebijakan berskala nasional dengan anggaran besar, MBG menciptakan dinamika ekonomi baru di sekitarnya.
Kehadiran peluang usaha dan aliran dana, terutama melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), adalah hal yang wajar. Setiap kebijakan publik besar selalu menciptakan efek ekonomi turunan. Persoalannya bukan pada ada tidaknya aktivitas ekonomi, tetapi apakah aktivitas itu tetap sejalan dengan tujuan utama MBG: menyediakan makan bergizi untuk anak sekolah.
Mencegah Pergeseran Orientasi: Dari Gizi ke Anggaran
Masalah berpotensi muncul jika ukuran keberhasilan bergeser. Jika fokus lebih pada penyerapan anggaran, pembangunan fasilitas, atau kemapanan lembaga pelaksana, sementara dampak nyata di sekolah lambat, MBG berisiko dipandang sebagai "mesin uang". Koreksi arah diperlukan agar mesin gizi dan mesin ekonomi berjalan searah untuk pembangunan manusia.
MBG Sebagai Mesin Gizi dan Bagian Ekosistem Pendidikan
Sebagai mesin gizi, indikator keberhasilan MBG harus sederhana dan tegas: apakah asupan gizi anak sekolah membaik? Titik ukurnya ada di ruang kelas dan kantin sekolah. Namun, gizi saja tidak cukup. Anak sehat butuh lingkungan pendidikan layak. Oleh karena itu, MBG harus dipandang sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang lebih luas, yang juga mencakup fasilitas layak, kesejahteraan guru, dan proses belajar bermutu.
Potensi MBG Sebagai Penggerak Ekonomi Riil
Dari sudut pandang ekonomi, MBG menyimpan potensi besar sebagai mesin ekonomi riil. Kebutuhan pangan rutin berskala nasional dapat menjadi permintaan stabil bagi petani, nelayan, pedagang pasar, dan UMKM pangan lokal. Jika dikelola baik, MBG bisa menciptakan efek pengganda ekonomi, membuka lapangan kerja, dan mendorong pemerataan.
Namun, ini membutuhkan tata kelola cermat. Negara harus hindari distorsi pasar, seperti ketergantungan produsen kecil pada satu pembeli. MBG harus dirancang sebagai penggerak ekosistem ekonomi lokal, bukan penguasa pasar yang tersentralisasi.
Artikel Terkait
Mendikdasmen: Banyak Anggota DPR Lulusan Paket C, Ini Bukti Pentingnya PKBM
Tower Seluler Ambruk di Surabaya: Hantam Atap Sekolah & Mobil, Begini Kronologinya
Dino Patti Djalal Peringatkan Risiko Indonesia Gabung Dewan Perdamaian Gaza Trump
Analisis Visi Prabowo di WEF 2026: Program Gizi Gratis & Keadilan Sosial untuk Rakyat