Analisis Pernyataan Kapolri Listyo Sigit: Toxic Leadership dan Krisis Komunikasi Pemerintahan Prabowo
Penulis Opini: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen)
Dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan pernyataan tegas yang menuai beragam interpretasi. "Saya menolak Polri di bawah kementerian," ujarnya, sebuah sikap yang dinilai banyak pihak beraroma sarkasme dan menunjukkan sikap narsistik.
Dampak Pelemahan Institusi dan Reaksi Politik
Kapolri beralasan bahwa meletakkan Polri di bawah kementerian akan melemahkan institusi Polri, negara, dan presiden. Pernyataannya diakhiri dengan gaya bahasa hiperbolis, meminta seluruh jajarannya mempertahankan posisi tersebut "hingga titik darah penghabisan".
Pernyataan ini langsung disambut sorak dan yel-yel "manyala Kapolri" dari sebagian anggota Komisi III DPR. Reaksi ini dinilai sebagai ekspresi kemenangan politik, dalam upaya mempertahankan dominasi kekuasaan dan menyongsong suksesi kepemimpinan nasional 2029.
Toxic Leadership dan Degradasi Kinerja Institusi
Fenomena perilaku Kapolri Listyo Sigit yang dianggap mengangkangi otoritas pimpinan negara ini terjadi berulang. Pola seperti ini dalam studi kepemimpinan dapat digolongkan sebagai Toxic Leadership. Implikasinya sangat serius, dapat berpengaruh langsung terhadap kinerja, moral, dan integritas institusi Polri secara keseluruhan.
Artikel Terkait
8 Jenis Pizza Italia Terkenal & Otentik yang Wajib Dicoba
Kasus Hogi Minaya: Kritik Kuasa Hukum dan Analisis Pakar Hukum Pidana
OTT KPK Bisa 30 Kali Setahun dengan Alat Canggih, Kata Eks Penyidik
Refly Harun Kritik Penetapan Tersangka Roy Suryo: Upaya Membungkam Kebebasan Berpendapat?