Massa ingin berorasi tepat di depan kantor Wakil Presiden. Namun polisi, termasuk Polwan, menghadang sebelum mereka tiba. Speaker demonstran diamankan petugas. Rasanya seperti konser rock mendadak dicabut kabel listriknya. Salah satu koordinator aksi kemudian duduk di tengah jalan melakukan blokade. Emak-emak dan Polwan saling dorong. Untung tidak ada wasit meniup peluit.
Semua ini terjadi di tengah gelombang demonstrasi Juli 2026 bertajuk "Mosi Tidak Percaya" terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Di berbagai daerah, orang membawa macam-macam tuntutan. Namun di Kebon Sirih, fokusnya cuma satu: ijazah. Selembar dokumen yang kini popularitasnya mengalahkan artis, influencer, bahkan pemain Timnas.
Publik kembali membuka album lama. Riwayat sekolah Gibran di Orchid Park Secondary School Singapura, UTS Insearch Sydney, isu penyetaraan hingga gugatan perdata kembali diputar seperti lagu yang tak pernah keluar dari daftar putar. Sampai kini, berdasarkan laporan Kompas TV pada 28-29 Juli 2026, belum ada tanggapan resmi dari Istana Wakil Presiden maupun Gibran terkait aksi tersebut.
Akhirnya, rakyat kembali pulang membawa satu pertanyaan sama. Bukan soal untung dua triliun penggilingan padi, bukan antre mengular di SPBU, apalagi hattrick Mitchell Lee Baker. Melainkan pertanyaan yang sudah berevolusi menjadi legenda nasional: "Besok episode ijazah tayang lagi jam berapa?"
"Bang, yang demo begitu ada ndak amplopnya?"
"Tak tahu juga sih, wak. Lihat penampilan mereka, kayaknya orang berduit semua yang demo." Ups.
(Mantan Wartawan)
Artikel Terkait
Pagar Besi di Mal Jakarta dan Surabaya: Klarifikasi APPBI Soal Tujuan Keamanan & Atur Akses Pengunjung
Kenaikan Tunjangan Kinerja TNI 2026: Rincian Lengkap Gaji Tukin dari Tamtama hingga Jenderal Bintang 4
PLN Bangun Gardu Induk Nalumsari, Oknum DPR RI Diduga Hambat Proyek Strategis Listrik di Jepara
Spotify Update Fitur Release Radar: Cara Mendapatkan Rekomendasi Lagu Terbaru Setiap Hari