Situs web teknis seismologi ISAAC Anti Seismic mengutip analisis dari para peneliti Institut Geofisika dan Vulkanologi Italia (INGV) mengenai video serupa yang terekam pada tahun 2018 di sebuah kafe kucing di Osaka, Jepang. Dalam video tersebut, banyak kucing secara bersamaan mengangkat kepala dan tampak waspada sekitar 10 detik sebelum gempa mengguncang bangunan.
Menurut tim peneliti, reaksi kucing-kucing tersebut kemungkinan besar bukan karena mereka "mengetahui" gempa akan terjadi, melainkan karena mereka merasakan gelombang P (gelombang primer). Gelombang seismik ini merambat paling cepat dan muncul pertama kali saat gempa terjadi. Gelombang P biasanya lemah dan sulit dideteksi manusia, tetapi spesies dengan pendengaran dan persepsi getaran yang lebih tajam dapat merasakannya beberapa detik lebih awal.
Ketika gelombang S (gelombang sekunder) tiba, getaran menjadi lebih kuat dan barulah manusia merasakan guncangan dengan jelas. Hipotesis lain menyebutkan hewan mungkin bereaksi terhadap perubahan medan listrik, medan magnet, atau tekanan udara sebelum gempa. Namun, para seismolog menekankan hipotesis ini belum terbukti melalui studi berulang dalam skala besar.
Catatan Sejarah: Perilaku Aneh Hewan Sebelum Bencana
Fenomena hewan yang bertingkah aneh sebelum gempa bukanlah hal baru. Sejak 373 SM, sejarawan mencatat bahwa hewan-hewan seperti tikus, ular, dan musang berbondong-bondong meninggalkan kota Yunani, Helice, beberapa hari sebelum gempa menghancurkan tempat tersebut. Sejak saat itu, berbagai laporan tentang antisipasi hewan terhadap gempa terus bermunculan selama berabad-abad.
Beberapa perilaku yang sering dilaporkan antara lain ikan lele yang bergerak dengan ganas, ayam yang berhenti bertelur, dan lebah yang meninggalkan sarangnya dengan panik sebelum bencana. Banyak pemilik hewan peliharaan juga mengaku menyaksikan kucing dan anjing mereka menggonggong atau merengek tanpa alasan jelas, atau menunjukkan tanda-tanda kegelisahan sebelum gempa terjadi.
Kesimpulan: Hewan Tidak Bisa Menjadi Alat Prediksi Gempa
Meskipun banyak cerita tentang perilaku hewan yang menyelamatkan nyawa, para ahli mengingatkan bahwa reaksi hewan terhadap getaran sebenarnya terjadi setelah gelombang P mencapai daerah tersebut. Artinya, gempa telah dimulai dan manusia hanya belum sempat merasakannya. Oleh karena itu, reaksi hewan tidak dapat dianggap sebagai alat prediksi gempa beberapa menit atau jam sebelumnya.
Menurut Andy Michael, ahli geofisika di USGS, hewan bereaksi terhadap banyak hal mulai dari kelaparan, mempertahankan wilayah, kawin, hingga predator. Hal ini menyulitkan para ilmuwan untuk melakukan studi terkontrol guna mendapatkan sinyal pasti terjadinya gempa bumi. Sampai saat ini, perilaku abnormal hewan sebelum gempa masih menjadi misteri yang belum terpecahkan sepenuhnya.
Artikel Terkait
Viral! Calon Pegawai BPJS Ketenagakerjaan Dipaksa Firewalk, BPJS Watch: Tidak Ada Urgensinya
Polda Metro Jaya Buka Suara soal Pagar Mal Jelang Aksi 17 Agustus: Belum Ada Surat Pemberitahuan, Situasi Aman Terkendali
Ribuan Pesilat PSHT Rusuh di Surabaya: Dorong Barikade Polisi dan Lempar Botol-Batu
Kejagung Tetapkan Teman Kuliah Febrie sebagai Tersangka Baru Kasus Pencucian Uang Eks Jampidsus