"Bahkan di Twitter/X ada konten yang engagement-nya mencapai 2,5 juta," tegasnya.
Selain itu, ia mengidentifikasi sejumlah akun yang secara sistematis memotong dan menyebarkan konten provokatif tersebut. "Dilihat dari penyebarannya, ini baru ramai sebulan setelah ceramah di UGM (Universitas Gadjah Mada)," tuturnya.
Nova menyebut potensi konflik SARA dari manipulasi konten ini relatif tinggi. Terlebih setelah amplifikasi terstruktur, ada upaya eskalasi dengan pelaporan JK di berbagai daerah ke polisi.
"Terlepas benar atau tidaknya, ini berarti ada upaya mobilisasi berbasis sentimen agama. Ada dikotomi yang terjadi di publik, antara membela JK atau membela umat Kristen. Ini yang sangat berbahaya," jelasnya.
Untuk mencegah kasus serupa menjadi konflik SARA, Nova menyarankan beberapa langkah. Pertama, literasi digital dan penguatan verifikasi. Kedua, edukasi tentang teknik manipulasi di media sosial.
"Bisa dilakukan dengan kampanye setop dulu atau tonton dulu secara utuh, jangan yang potongan. Kedua, fact checker harus diperkuat. Ketiga, masyarakat harus diberitahu bagaimana dekonstualisasi itu bekerja, selective editing dilakukan, dan AI generate konten digunakan untuk memanipulasi opini," jelasnya.
"Sehingga, pemuka agama harusnya memberikan klarifikasi dan membangun narasi bersama tentang sejarah dengan benar agar kita bisa melihat secara utuh di lapangan," pungkas Nova.
Artikel Terkait
Kasus Ijazah Palsu Jokowi: Aktivis Desak Pengadilan Terbuka, Kriminalisasi Penggugat Disorot
Purbaya Yudhi Sadewa Copot 2 Dirjen Kemenkeu: Kritik Keras Digeser Baru Nangis
Mahfud MD Bela Saiful Mujani: Analisis Hukum Tuduhan Makar yang Mengada-ada
Merger Gerindra dan NasDem Ditolak Tegas: Dasco & Saan Mustopa Bantah Isu Penggabungan