Lebih lanjut, Adi Prayitno menduga bahwa PSI sedang melakukan kalkulasi politik secara matang terkait dampak negatif yang mungkin timbul jika Ade Armando terus dikaitkan dengan partai berlambang bunga mawar tersebut. Terlebih, PSI saat ini tengah gencar membangun basis dukungan untuk mengejar target lolos ambang batas parlemen pada Pemilu mendatang.
"Sepertinya PSI juga sedang menghitung kalkulasi dan efek negatifnya jika Ade Armando terus bersama dengan PSI," tambahnya.
Adi Prayitno pun mengingatkan bahwa isu-isu sensitif, terutama yang berkaitan dengan ras dan agama, seharusnya menjadi konsumsi privat dan tidak layak dijadikan komoditas politik di ruang publik. Hal ini penting untuk menghindari kegaduhan sosial dan politik yang dapat merugikan banyak pihak.
"Maka sekali lagi, berbicara hal-hal yang sifatnya sensitif seperti ras itu adalah konsumsi yang sifatnya private," pungkasnya.
Sebagai informasi, keputusan Ade Armando mundur dari PSI diambil setelah ia mengaku kerap menjadi sasaran kritik dan serangan publik akibat pernyataan-pernyataannya. Puncaknya, Ade dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh aliansi 40 organisasi kemasyarakatan Islam terkait dugaan provokasi terhadap ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla. Kasus ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pengamat politik untuk menyoroti dampak bola salju dari kontroversi Ade Armando terhadap PSI.
Artikel Terkait
Polemik Ijazah Jokowi: Pengamat Hukum Desak Transparansi demi Integritas Kepemimpinan Nasional
Penanganan Profesional Kasus Pencemaran Nama Baik Ijazah Jokowi: Pengamat Ingatkan Dampak Politik Luas
Prabowo Soroti Peran TNI-Polri di Sektor Pertanian: Hanya di Indonesia Polisi Urus Sawah
Roy Suryo Sebut Penjemputan Polisi Brutal Mirip Film G30S/PKI, Begini Kronologinya