"Publik, terutama segmentasi anak muda melihat bagaimana gejolak politik yang terjadi membuat Kaesang perlu melakukan upaya keras agar bisa meraih simpati rakyat,” jelasnya.
Neni juga menilai pendekatan komunikasi politik yang selama ini identik dengan Jokowi sudah tidak lagi sepenuhnya efektif. Gaya merakyat yang ditampilkan ayahnya, Jokowi, kini mudah dibaca oleh publik sebagai pencitraan belaka.
"Gaya merakyat yang dilakukan ayahnya pun, Jokowi sangat mudah dibaca oleh publik untuk pencitraan semata,” tuturnya.
Dalam perspektif komunikasi politik, Neni berpandangan bahwa pencalonan Kaesang di Dapil Jawa Tengah V bukan sekadar upaya merebut kursi DPR RI. Langkah ini merupakan bagian dari strategi membangun simbol politik yang lebih besar.
"Dalam perspektif komunikasi politik, ini merupakan bentuk symbolic political communication, yaitu mengirimkan pesan politik yang jauh lebih besar daripada sekadar memperebutkan kursi DPR. Dia ingin menunjukkan anak muda yang memiliki pengaruh kuat di Jateng V,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Dedi Mulyadi Ungguli Prabowo di Survei Pilpres 2029: SMRC dan Indikator Catat Elektabilitas Tertinggi
Perry Warjiyo Mundur Mendadak: Kisah di Balik Konflik dengan Menkeu Purbaya soal Likuiditas dan Pertumbuhan Ekonomi
Rudy Bongkar Kebohongan Jokowi: Klaim 54 Kali Makan Bareng PKL Hanya 2 Kali
FX Hadi Rudyatmo Kecewa Berat: Jokowi Dorong Gibran Maju Pilkada Solo 2020 Tanpa Pengalaman Organisasi