"Publik, terutama segmentasi anak muda melihat bagaimana gejolak politik yang terjadi membuat Kaesang perlu melakukan upaya keras agar bisa meraih simpati rakyat,” jelasnya.
Neni juga menilai pendekatan komunikasi politik yang selama ini identik dengan Jokowi sudah tidak lagi sepenuhnya efektif. Gaya merakyat yang ditampilkan ayahnya, Jokowi, kini mudah dibaca oleh publik sebagai pencitraan belaka.
"Gaya merakyat yang dilakukan ayahnya pun, Jokowi sangat mudah dibaca oleh publik untuk pencitraan semata,” tuturnya.
Dalam perspektif komunikasi politik, Neni berpandangan bahwa pencalonan Kaesang di Dapil Jawa Tengah V bukan sekadar upaya merebut kursi DPR RI. Langkah ini merupakan bagian dari strategi membangun simbol politik yang lebih besar.
"Dalam perspektif komunikasi politik, ini merupakan bentuk symbolic political communication, yaitu mengirimkan pesan politik yang jauh lebih besar daripada sekadar memperebutkan kursi DPR. Dia ingin menunjukkan anak muda yang memiliki pengaruh kuat di Jateng V,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Buka Suara: Tak Menyesal Bantu Jokowi, Tegaskan Keputusan Masa Lalu Sesuai Konteks
Larangan Demo di Bundaran HI Menuai Kritik Tajam: LBH Jakarta Tegaskan Polisi Jangan Ngarang Soal Objek Vital Nasional
Peta Kekuatan Pilpres 2029: Siapa King Maker di Balik Layar Perebutan Kursi Presiden?
Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp2 Miliar, Pakar Hukum dan Ade Armando Buka Fakta Riwayat Pendidikan di Singapura-Australia