Mahfud MD Bongkar Kisah di Balik Penyelamatan Pemilu 2009: Saat MK Berani Ambil Keputusan di Tengah Ancaman Boikot

- Senin, 17 Agustus 2026 | 14:25 WIB
Mahfud MD Bongkar Kisah di Balik Penyelamatan Pemilu 2009: Saat MK Berani Ambil Keputusan di Tengah Ancaman Boikot

Mahfud MD Kembali Sorot Sikap Kritisnya: Kisah di Balik Penyelamatan Pemilu 2009

Jakarta, MULTAQOMEDIA.COM - Nama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, kembali menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Sikap kritisnya yang konsisten terhadap berbagai kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai sebagian kalangan sebagai sikap baru. Namun, Mahfud dengan tegas membantah anggapan tersebut. Ia menegaskan bahwa keberaniannya dalam menyuarakan kebenaran dan mengambil keputusan sulit bukanlah hal yang baru, melainkan sudah menjadi bagian dari integritasnya sejak lama, bahkan ketika ia masih berada di dalam lingkaran kekuasaan dan lembaga negara.

Pernyataan penting ini disampaikan Mahfud dalam sebuah sesi podcast "Terus Terang" yang dipandu oleh Rizal Mustary di kanal YouTube resmi Mahfud MD Official. Dalam kesempatan tersebut, ia membuka memori tentang salah satu momen krusial dalam sejarah demokrasi Indonesia, yaitu penyelamatan penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 dari ambang kekacauan. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa sikap tegas dan keberaniannya sudah teruji jauh sebelum ia berada di luar pemerintahan.

Ancaman Boikot di Tengah Krisis DPT Pemilu 2009

Mahfud menceritakan situasi genting yang terjadi hanya beberapa hari menjelang pencoblosan Pilpres 2009. Saat itu, masalah krusial muncul terkait Daftar Pemilih Tetap (DPT). Lebih dari 3,5 juta warga negara terancam kehilangan hak pilihnya karena tidak terdaftar dalam DPT. Kondisi ini memicu reaksi keras dari dua kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden, yaitu pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto serta Jusuf Kalla-Wiranto.

Pada Minggu malam, hanya sekitar empat hari sebelum hari pemungutan suara yang dijadwalkan pada Kamis, kedua pasangan calon tersebut menggelar konferensi pers. Mereka melayangkan ancaman serius untuk memboikot dan mengundurkan diri dari kontestasi pemilu apabila persoalan DPT tidak segera menemukan titik terang.

"Bayangkan, jika mereka mengundurkan diri saat kurang dari empat hari menuju pencoblosan, negara ini pasti sudah dalam keadaan kacau," ujar Mahfud mengenang momen menegangkan tersebut.

Keputusan Berisiko Tinggi di Tengah Keterbatasan Hukum


Halaman:

Komentar