- Beban Subsidi Energi yang Membengkak: Lonjakan harga minyak dunia otomatis akan membebani anggaran subsidi energi pemerintah.
- Defisit Transaksi Berjalan Melebar: Biaya impor minyak yang melambung tinggi berpotensi memperlebar celah defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia.
- Biaya Pinjaman (Bunga) yang Naik: Inflasi agresif akibat harga energi bisa memicu kenaikan suku bunga. Hal ini akan membuat pemerintah membayar lebih mahal untuk menerbitkan utang atau membiayai defisit anggaran.
Ketahanan Berbeda-beda di Kawasan ASEAN
S&P memandang tingkat ketahanan negara-negara Asia Tenggara terhadap guncangan ini berbeda-beda:
- Malaysia (Paling Stabil): Meski defisit anggaran dan subsidi diprediksi membengkak, pasar modal yang dalam serta pertumbuhan ekonomi yang solid menjadi pelindung. Penurunan fiskal sementara dinilai tidak akan langsung memicu perubahan peringkat utang.
- Thailand: Dianggap memiliki kebijakan moneter dan posisi eksternal yang cukup kuat untuk menahan guncangan.
- Vietnam: Dinilai memiliki bantalan yang memadai, namun tetap perlu mewaspadai risiko likuiditas eksternal jika biaya impor energi terus menggerus cadangan devisa.
Proyeksi Harga Minyak dan Dampak Berkelanjutan
S&P menyusun asumsi dasar bahwa puncak intensitas konflik dan gangguan di Selat Hormuz akan mereda. Namun, kerusakan infrastruktur energi di Timur Tengah diprediksi masih akan menyisakan dampak selama berbulan-bulan ke depan.
Dalam skenario ini, harga minyak mentah jenis Brent diperkirakan akan bertahan di level rata-rata 85 Dolar AS per barel hingga akhir tahun 2026. Kondisi ini yang akan terus menguji ketahanan fiskal dan eksternal negara-negara importir minyak seperti Indonesia.
Artikel Terkait
Subsidi BBM Malaysia Melonjak 4 Kali Lipat: Penyebab, Dampak, dan Respons Pemerintah
Harga Pertalite Naik 2026? Simak Jadwal & Penyebab Kenaikan Usai Lebaran
Harga Pertamax Bisa Tembus Rp 20.700 per Liter? Ini Analisis dan Dampak Geopolitik
Rupiah Sentuh Rp17.000, Menkeu Purbaya: Ekonomi Indonesia Masih Ekspansi, Resesi Jauh