Iran Klaim Lebih Siap dari Sebelumnya
Di sisi lain, Iran menyatakan kesiapan tempur yang tinggi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan negaranya "lebih siap dari sebelumnya" untuk merespons setiap agresi. Ia menyebut situasi ini sebagai "perang hibrida" yang meliputi tekanan militer dan destabilisasi internal.
Baghaei memperingatkan bahwa ketidakstabilan akan menular ke seluruh kawasan dan mendesak negara tetangga untuk mengambil sikap jelas terhadap ancaman AS.
Soliditas Militer Iran: Siap Bertahan Hingga Titik Darah Penghabisan
Pernyataan kesiapan diperkuat oleh komandan militer senior Iran. Komandan Pasukan Darat, Ali Jahanshahi, menekankan persatuan internal angkatan bersenjata sebagai kunci menghadapi ancaman. "Angkatan bersenjata harus bertindak sebagai satu kesatuan agar musuh merasa tidak berdaya," tegasnya.
Dukungan serupa datang dari Komandan Pasukan Darat Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Mohammad Karami, yang menyebut sinergi antar angkatan bersenjata sebagai aset berharga yang telah menggagalkan rencana musuh.
Kesimpulan
Eskalasi ketegangan AS-Iran mencapai titik yang mengkhawatirkan dengan pengerahan militer besar-besaran dan diplomasi tekanan. Sementara AS dan Israel memperketat koordinasi dan kesiapan tempur, Iran membalas dengan pernyataan kesiapan dan peringatan akan respons yang keras. Situasi ini menjadikan kawasan Timur Tengah sebagai titik panas yang berpotensi memicu konflik terbuka.
Artikel Terkait
Discombobulator: Senjata Rahasia AS Lumpuhkan Pertahanan Venezuela, Klaim Trump Terungkap
USS Abraham Lincoln Siap Serang Iran: AS Kirim Pesawat Tempur Tambahan ke Timur Tengah
Kemajuan ICBM & Nuklir Korea Utara: Ancaman Global dan Strategi Baru Korsel
Iran Siaga Tinggi: Mural Ancaman & Respons Terhadap Armada AS di Timur Tengah 2026