MULTAQOMEDIA.COM - Gelombang demonstrasi yang melanda berbagai daerah pada Jumat (12/6) menjadi alarm keras bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Aksi unjuk rasa ini merupakan respons atas sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Aksi protes dipicu oleh berbagai persoalan ekonomi, mulai dari melemahnya nilai tukar rupiah, lonjakan harga kebutuhan sehari-hari, kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax, hingga polemik pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pengamat politik, Fernando Emas, mengingatkan Presiden Prabowo Subianto untuk tidak memandang remeh potensi gelombang protes masyarakat. Menurutnya, kondisi ini dapat memengaruhi stabilitas pemerintahan, seperti yang terjadi pada Reformasi 1998.
Fernando menegaskan bahwa Reformasi 1998 merupakan peristiwa penting dalam sejarah politik Indonesia yang lahir dari akumulasi persoalan ekonomi dan sosial. Ia memperingatkan bahwa skenario serupa berpotensi terulang jika pemerintah tidak segera bertindak.
“Saya tidak menakut-nakuti pemerintahan Prabowo, melainkan memberi peringatan berbasis sejarah. Kondisi yang pernah memicu ledakan sosial seperti 1998 berpotensi berulang jika pemerintah tidak segera bertindak,” kata Fernando Emas kepada wartawan, Minggu (14/6).
Ia menilai skenario “Reformasi 1998 Jilid II” tidak akan terjadi begitu saja. Namun, hal tersebut bisa menjadi kenyataan apabila pemerintah gagal atau terlambat melakukan pembenahan, terutama di sektor ekonomi.
“Masih ada jendela peluang bagi Presiden Prabowo untuk mengambil langkah konkret dan terukur guna mencegah akumulasi kemarahan publik mencapai titik kritis yang tidak terkendali,” ujarnya.
Artikel Terkait
Ketua BEM UGM 2025 Temukan Alat Pelacak di Bawah Mobil Usai Demo, Sebut Bentuk Intimidasi
Seskab Teddy: Harga Pertamax di Indonesia Lebih Murah Dibanding Negara Asia Tenggara Lain
Pengusaha Tersangka! Alih Fungsi 7 Hektar Lahan Sawah Jadi Tambak Udang, Negara Rugi Rp32 Miliar
Kejagung Belum Kabulkan Justice Collaborator Sony Sonjaya, Kasus Korupsi MBG Masih Dikaji