Trump juga kembali mengklaim bahwa serangan gabungan AS dan Israel terhadap fasilitas Iran pada Juni tahun lalu merupakan faktor kunci yang membuka jalan bagi “gencatan senjata” di Gaza. Menurut analisanya, tanpa tekanan militer terhadap fasilitas nuklir Iran, negara-negara di kawasan tidak akan berani menyepakati perdamaian di Timur Tengah.
Negosiasi di Jenewa dan Penguatan Militer AS
Ultimatum ini muncul dalam situasi yang dinamis, hanya beberapa hari setelah Washington dan Teheran menggelar putaran kedua pembicaraan tidak langsung di Jenewa. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menyatakan bahwa kedua pihak mencatat “kemajuan yang baik” dan telah sepakat pada sejumlah prinsip dasar untuk melanjutkan perjanjian.
Namun, di tengah jalannya diplomasi, AS justru memperlihatkan kesiapan militernya. Washington dilaporkan terus menambah kekuatan di kawasan Teluk dengan mengerahkan dua kapal induk dan puluhan jet tempur, mengirim sinyal tegas di balik meja perundingan.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak dengan ultimatum 10 hari ini. Dunia internasional kini menantikan respons Iran dan perkembangan terakhir dari jalur diplomasi dalam tenggat waktu yang sangat singkat tersebut.
Artikel Terkait
Iran Klaim Tembak Kapal Perang AS di Teluk Oman, Centcom Bantah Keras
Citra Satelit Ungkap Hancurnya Pangkalan Militer AS di Kuwait Akibat Serangan Rudal Iran
Topan Jangmi Lumpuhkan Jepang: 60.000 Rumah Mati Listrik, Ratusan Penerbangan Batal
Trump Murka ke Netanyahu: Sebut Gila hingga Ancam Penjara, Perang Lebanon Jadi Pemicu